|
Siang ini, tiba-tiba aku merasa kerinduan yang amat mendalam sama Kak Devy, ya Allah sekarang berapa usia kandungannya??? Allah….. aku mencintai Kak Devy karena MU ya Allah, Plis jaga Kak Devy-ku, selamatkan persalinannya nanti, lancarkan proses kelahirannya, sehatkan ia dan bayinya, Kak Devy, hafshah rindu sama Kakak, rindu sama Tausiyah dari Kakak, rindu pada semangat Juang Kakak yang tak pernah luntur, pada Militansi kakak di setiap medan Da’wah, Ya Allah jadikan lah aku seperti KaK Devy, cantik lahir dan bathin. Ya Allah, berikanlah kami kesempatan untuk bersama-sama menyaksikan futuh sebagai buah dari perjuangan Kami, Bilakah Futuh itu masih Lama?? Sesungguhnya Engkau telah berjanji Ya Allah bahwa Pertolongan (Futuh) MU amat dekat, aku percaya dan yakin bahwa Engkau adalah Dzat yang tidak akan mengubah janji. Aku kehilangan kata2 setiap kali melukiskan perasaan ku terhadap rekan2 seperjuangan ku, hanya satu yang aku pinta jagalah mereka Ya Allah dalam Din-MU, dan yang aku tahu aku mencintai mereka semua melebihi diriku, Aku telah memposisikan mencintai orang2 mu’min setelah aku Mencintai MU, mecintai Rasul-MU, dan keluarga ku. Allah ku mohonkan pula untuk kebahagiaan Teh Uun yang akan mengharungi hidup bersama Ust. Nurul, berikan mereka kebahagiaan dunia dan akhirat, lancarkan proses munakahatnya, berikan mereka Cinta MU yang tak pernah padam…aku ingin berbahagia ketika aku bisa membuat orang lain berbahagia atau minimal turut merasakan kegembiraannya. Aku akan mengorbankan diriku ya Robbii, demi kejayaan Hukum-MU, aku akan mengorbankan kepentingan diriku demi kepentingan Saudara-saudaraku se Aqidah. Rancho, 14 Juni 2006 |
|
0 Comments
Mood: rindu serindu-rindunya Catatan: Ketika aku merasa rindu dengan orang-orang yang aku kasihi……… |
|
Oleh : Ahmad Tohari Dalam sebuah penelitian terungkap bahwa kebanyakan mahasiswa lebih mementingkan membeli pulsa HP daripada membeli buku. Fakta ini tidak mengejutkan karena masyarakat sudah tahu suasana umum kehidupan mahasiswa kita. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada kelompok minoritas mahasiswa yang serius dengan studi yang sedang mereka tempuh, kita mengerti lebih banyak mahasiswa yang itu tadi; lebih suka menikmati komunikasi dengan HP daripada membaca dan menambah koleksi bukunya. Bahkan mungkin lebih dari itu, banyak mahasiswa lebih mendahulukan rokok daripada kartu keanggotaan perpustakaan. Memang saat ini berkomunikasi dengan HP merupakan hal yang sangat umum. HP sudah menjadi kebutuhan standar seorang mahasiswa. Kita juga tahu dalam berkomunikasi dengan HP sebagian di antaranya memang penting. Namun ketika kebutuhan akan pulsa diletakkan di atas kebutuhan akan buku, dan hal ini terjadi di kalangan mahasiswa, rasanya jadi ironis. Sebab selayaknya buku menjadi kebutuhan utama bagi siapa saja yang sedang menuntut ilmu. Tapi mengapa buku telah terdesak ke belakang oleh pulsa? Pertanyaan ini akan mengundang berbagai jawaban. Rupanya buku belum menjadi sahabat para para mahasiswa karena minat baca mereka ternyata masih rendah. Mengapa minat membaca rendah, mungkin mereka belum bercaya bahwa buku mampu mengubah secara evolutif dirinya menjadi orang kaya dalam hal ilmu dan pengetahuan. Juga dalam hal kematangan, baik kematangan intelektual maupun emosional. Bahkan menurut Mochtar Pabottinggi, peneliti utama LIPI beberapa waktu lalu, salah satu sebab ketertinggalan bangsa Indonesia adalah kegagalannya menjadikan buku sebagai sumber inovasi kehidupan. Hal ini terbukti dengan sangat nyata pada bangsa Jepang yang terkenal sangat suka membaca. Kemajuan dan kemakmurannya sulit ditandingi. Bahkan kecerdasan anak-anak Jepang menempati tingkat tertinggi di dunia. Atau lebih celaka lagi kalau ada mahasiswa beranggapan dirinya bisa menjadi orang pandai (!) hanya dengan membaca secara terpaksa beberapa buku wajib. Namun bila para mahasiswa itu hanya menginginkan gelar sarjana, ya sudah. Mereka tidak sedikit pun celaka. Karena di seluruh wilayah negeri ini bertebaran sarjana dari berbagai jurusan dan mereka hanya membaca sedikit buku dan lebih sedikit lagi menulis. Para sarjana semacam ini diproduksi massal oleh lembaga-lembaga pendidikan gurem yang lebih mengutamakan keuntungan uang daripada mutu sarjana yang mereka hasilkan. Lembaga semacam ini sering menjadi alat bagi kalangan birokrasi yang membutuhkan tenaga asal bergelar sarjana untuk menempati posisi-posisi yang mempersyaratkan gelar, bukan kecakapan maupun keterampilan. Kembali ke masalah mahasiswa, buku dan pulsa. Fakta bahwa banyak mahasiswa lebih mengutamakan pulsa HP daripada buku tentu menjadi hal yang tidak menggembirakan. Namun sebenarnya mereka tidak bisa begitu saja dipersalahkan karena mereka adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat kita. Perilaku mereka adalah produk budaya masyarakat yang melahirkannya. Mengapa mereka lebih suka pulsa daripada buku juga mencerminkan watak masyarakat kita yang lebih suka terhadap sesuatu yang segera bisa dinikmati daripada hal-hal yang baru membuahkan hasil di masa depan. Ya, pulsa adalah hal yang bisa langsung dinikmati sebagai sarana keasyikan berhaha-hehe, ngerumpi atau pacaran. Sedangkan buku adalah investasi budaya yang baru bisa dinikmati hasilnya kelak, bahkan membacanyapun memerlukan keseriusan yang memakan energi tidak sedikit. Maka umumnya mahasiswa lebih menyukai pulsa daripada buku, suatu hal yang merupakan duplikasi dari watak masyarakat yang melahirkan mereka. Betapa kita seperti kurang berminat dalam hal berinvestasi kebudayaan terlihat misalnya dalam dunia pendidikan. Amanat UUD agar pendidikan dianggar 20 persen dari APBN hingga kini belum terlaksana meskipun kita sudah merdeka selama lebih dari 60 tahun. Perbukuan sebagai bagian dari amat penting dari upaya memajukan kehidupan bangsa masih begitu menyedihkan. Harganya mahal, pajaknya tinggi, kualitasnya kurang terjaga. Dan tidak seperti di negeri tetanga Malaysia misalnya, kehidupan para penulis buku di Indonesia rata-rata masih sengsara. Di Malaysia karya para penulis buku sangat dihargai oleh pemerintah. Buku-buku itu dibeli dan disebarkan ke masyarakat dengan subsidi sehingga penulisnya bisa hidup layak. Dan karena dibanjiri dengan buku-buku maka masyarakat jadi terbiasa membaca. Entah kapan kita mampu membangun kondisi di mana buku dibaca karena dipercaya mampu mendatangkan faedah yang besar untuk kemajuan hidup. Entah kapan para mahasiswa kita menjadi pecandu buku karena percaya dengan banyak membaca mereka anak berkembang menjadi orang pandai. Kapan? Jawabnya, kalau masyarakat Indonesia sudah yakin bahwa buku ternyata sudah berhasil membimbing kemajuan dunia. Sayang keyakinan seperti itu hanya ada pada masyarakat yang mau sungguh-sungguh belajar dari sejarah. Dan sejarah kita membuktikan bahwa kita kurang suka membaca buku. Maka kita juga tidak terkejut bila ternyata para mahasiswa kita pun lebih suka pulsa daripada buku. |
|
Oleh Taufiq Ismail Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok, Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara- perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok, Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok, Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok, Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok, Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok, Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita, Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok, Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok, Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS, Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, Bisa ketularan kena, Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok, Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok, Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok, Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok, Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita, Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya, Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal? Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i. Kalau tak tahan, Di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan? Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok. Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan, Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk, Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba, Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya, Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini, Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini. |
|
The dinner guest were sitting around the table discussing life. One man, a CEO, decided to explain the problem with education. He argued: "What's a kid going to learn from someone who decided his best option in life was to become a teacher?" (Para Tamu undangan Makan malam duduk disekitar meja untuk menghidupkan diskusi. Seseorang CEO memutuskan untuk menjelaskan tentang masalah dalam pendidikan. Dia bertanya : “Apakah anak2 belajar dari seseorang yang memutuskan bahwa seseorang menjadi guru dalam sebagai pilihan terbaik dalam hidupnya?”. He reminded the other dinner guests that it's true what they say about teacher: "Those who can, do. Those who can't, teach." (Dia mengingatkan para undangan Makan malam lainnya untuk mengatakan kebenaran tentang seorang Guru. “Siapa yang bisa melakukannya?, siapa yang tidak bisa mengajar”. To corroborate, he said to another guest: "You're a teacher, Susan," he said. "Be honest. What do you make?" Susan, who had a reputation of honesty an frankness, replied, "You want to know what I make?" "I make kids work harder than they ever thought they could. I can make a C+ feel like a Congressional Medal of Honor and an A- feel like a slap in the face if the student did not do his or her very best. Untuk menguatkan argumennya itu, dia berkata pada salah seorang undangan : “Susan, Anda sebagai seorang guru” dia mengatakan “Tolong ungkapkan secara jujur, apa yang Anda lakukan?”. “Saya membuat anak2 bekerja lebih keras dibandingkan membuat mereka untuk berpikir apa yang mereka inginkan. Saya membuat mereka merasa bangga mendapat C+ dalam kongres Bintang kehormatan dan menampar keberanian merek jika para murid tidak berhasil melakukan yang terbaik” "I can make kids sit through forty minutes of study hall in absolute silence. I can make parents tremble in fear when I call home. Saya membuat anak2 dapat duduk tenang selama 40 menit untuk belajar dalam kesunyian yang absolut. Saya bisa membuat para orangtua merasa ketakutan ketika saya menelepon rumah mereka”. "You want to know what I make?" “Anda ingin tahu apa yang saya lakukan?” "I make the kids wonder. “Saya membuat anak2 sukses "I make them question. “Saya membuat mereka bertanya "I make them criticize. “Saya membuat mereka Kritis "I make the apologize and mean it. “Saya membuat mereka meminta maaf dan membuat mengerti tentang itu "I make them write. “Saya membuat mereka menulis "I make them read, read, read. “Saya membuat mereka membaca, baca, baca "I make them spell definitely beautiful, definitely beautiful, and definitely beautiful over and over and over again, until they will never misspell either one of those words again. “Saya membuat mereka mengeja dengan ejaan yang indah, mengeja dengan indah dan mengeja dengan indah lebih banyak dan banyak dan lebih lagi, sampai mereka tidak akan pernah salah dalam mengucapkan satu huruf pun "I make them show all their work in math and hide it all on their final drafts in English. “Saya membuat mereka menunjukkan semua pekerjaan matematikan mereka dan menyembunykan semua itu saat mereka menyelesaikan konsep naskah dalam bahasa Inggris "I make them understand that if you have the brains, then follow your heart...and if someone ever tries to judge you by what you make, your pay them no attention. “Saya membuat mereka mengerti jika Kau punya otak, lalu hatimu mengikuti dan jika seseorang pernah mencoba untuk menilai dirimu dari apa yang kamu lakukan, Kau harus membayar mereka dengan tidak memberi perhatian "You want to know what I make? “Kau mau tahu apa yang telah Saya Lakukan "I make difference. “Saya membuat perbedaan "Do you?" “Bisakah Anda?” (If this essay does not inspire to keep on teaching, maybe you have picked the wrong profession!) Jika essay ini tidak menginspirasi anda untuk tetap mengajar, mungkin Anda telah salah dalam mengambil profesi!) |
|
2 Comments
Mood: cool Catatan: Terimakasih Sahabatku, seorang guru, yang dalam usia muda telah berani memutuskan menjadi seseorang yang mampu memunculkan apa yang terbaik dari kami, para murid. |
|
Posting by : Ahmad Akbar (HMI) Pernahkah dalam suatu perjalanan tiba-tiba tersesat ? Apa yang kita rasakan ? Kebingungan, pikiran bergejolak, saling menyalahkan teman seperjalanan, takut kehabisan bekal, dan kelelahan fisik mental yang mendera. Kesesatan identik dengan kebuntuan, kegelapan dan meraba-raba. Hidup dalam kesesatan hanya selalu berdasarkan rabaan prasangka dan judi. Mental judi kalau menang menepuk dada kalau kalah panas dan selalu ingin menuntaskan permainan sampai tetes keringat terakhir. Kesesatan dan kegelapan hanyalah karena obyek itu tidak disinari cahaya, baik cahaya keilmuan ataupun cahaya sesungguhnya. Cahaya keilmuan adalah cahaya logika berdasarkan keputusan indera yang dibakukan menjadi kebenaran temporer. Sedangkan "cahaya sesungguhnya" sebagai kubah tak terbatas yang menjadikan semua mahluk benar adanya dan selalu “dihidupi”. Cahaya ada yang berujud nyata seperti cahaya lampu senter sampai cahaya yang tak terlihat sinarnya namun terang benderang tak terbantahkan. Sesungguhnya obyek mahluk tidak dapat memendarkan cahaya dari dirinya sendiri. Ia hanya ditimpa cahaya dan akhirnya terlihat. Ia hanya mendapat anugerah, mendapat hidayah dari pengarah cahaya. Objek yang tak tersinari menjadi gelap tak terlihat. Ini karena sang pemilik cahaya tidak mengarahkan cahayanya kepada objek tersebut. Pengarahan cahaya ke obyek tersebut adalah hak prerogratif sang pemilik sahaya. Sesat dan gelapnya objek hanya sang pemilk cahaya yang berhak menentukan. Akhir-akhir ini marak lagi tuduhan sesat yang jelas dimunculkan tentu saja bukan untuk golongan sendiri apalagi untuk menuduh diri sendiri. Menuduh orang lain sesat kalau disadari ternyata sangat-sangat butuh keberanian luar biasa karena sesat dan hidayah bagaikan dua sisa keping mata uang yang tak bisa dipisahkan dari “genggaman” Allah. Karena hanya Allah lah pemegang hak prerogratif untuk menyematkan kedua hal itu pada mahluk yang dikehendaki. Namun betapa beraninya kita melangkahi hak-hak Allah. Kita membaca ayat-ayat Nya bukan lagi untuk menelanjangi diri. Bukan lagi untuk mengelupas lapisan demi lapisan yang menyempitkan dada. Secara sadar membaca ayat Allah disamakan dengan menghafal pasal-pasal buatan manusia sambil diam-diam menyematkan lencana penegak hukum ke dada sendiri. Mengkudeta halus posisi Al Hakim Menyublimkan diri menjadi illah-illah kecil. Akulah kebenaran...aku berhak menghukum karena akulah yang berkuasa...atas ilmuku...atas pengikutku...atas jaringanku...atas pengaruhku...atas simpati-simpati yang telah kuraih..La Haula wala quwwata Illa Billah entah ketlingsut dimana...Seakan dunia ini tanpa kita tidak akan menjadi benar. Kita sudah kehilangan pegangan mana hak Allah mana hak mahluk. Kita tidak lagi sholat menghadap Allah. Kita sholat menghadap alam pikiran sendiri. Menyembah tafsir-tafsir, mahzab-mahzab, ideologi-ideologi, prasangka-prasangka, dan pengalaman-pengalaman ruhani yang tak seberapa dibanding Rasulullah yang super tawadhu dan rela hanya bertempat tinggal seluas nggak sampai duapuluh lima meter persegi demi menjaga cintanya yang tak tertandingi kepada Allah. Kita menabrak-nabrak dengan gemuruh sifat api yang membakar dada. Mengumpulkan argumen-argumen baik dari yang klasik sampai post modern untuk kita muntahkan dihadapan diri sendiri dan kelompok. Kemudian kita kebingungan berjingkat-jingkat menghindari muntahan itu sendiri. Tiap hari kita disibukkan berjingkat dari muntahan sendiri. Karena setiap langkah identik dengan muntah. Suatu saat tiba-tiba kita terhenyak tiada lagi jalan yang bersih dari muntahan kita sendiri. Hidup menjadi terserimpung, tegang dan kaku. Dada kita terbakar oleh api yang kita ciptakan sendiri. Apa yang Anda bayangkan bila suatu saat sang penuduh sesat dan tertuduh dalam puncak perselisihan bertemu dan berperang. Si penuduh maju tak gentar meneriakkan “Allaahuakbar” si tertuduh membela diri sambil meneriakkan “Allahummaa shalli 'alaa Muhammad” Maka negeri langit pun goncang...Para malaikat bingung dan berlari menuju singgasana Allah. "Ya Rabb ada dua kelompok mahlukMu yang berhadap-hadapan berbunuhan, yang satu mengangungkan namaMu yang lain memuliakan kekasihMu Muhammad. Hamba mohon petunjuk untuk kelompok mana pahala dan dosa ditimpakan ?..." Apa tafsiran jawaban kita terhadap jawaban Allah tentang kasus langka ini ? Itu tergantung kita ini menganggap seberapa besar Allah. Apakah hanya besar, agak besar, lumayan besar, pas besarnya sesuai ukuran keinginan kita, atau benar-benar maha besar tak terbatas tanpa “tedheng aling-aling” meliputi segala sesuatu baik yang menyembah maupun yang mengingkarinya. Atau juga seberapa besar cinta shalawat kita kepada rasulullah. Apakah cinta doktrin yang dipaksakan, cinta matre yang minta imbalan, cinta monyet yang mudah putus, cinta playboy yang kerjaannya tebar pesona atau bener-bener cinta tulus yang mengguncangkan dada hingga membuat diri selalu menangis sekaligus berbunga dan menjadi ramah kepada siapa saja yang ditemuinya. Kalau kita gagal menemukan keMaha Besaran Allah, maka kerdillah diri kita seperti kita mengkerdilkan kekuasaan Allah. Kalau kita gagal mensuri tauladani cinta sang pecinta sejati Muhammad, maka pembencilah diri kita seperti orang yang membenci dan menuduh rasulullah sebagai orang gila berpenyakit ayan karena tidak mencintai benda dan kekuasaan. Dan jangan-jangan kitalah yang sesat karena tidak dihidayahi Allah untuk membedakan mana benda mana cahaya, mana kata mana makna, mana lambang mana nilai, mana jalan mana tujuan, mana huruf mana kalam, mana api mana cahaya. Jangan-jangan kita ini yang sesat karena selalu dalam alam kegelapan yang hanya berilmukan rabaan prasangka logika dan kesimpulan-kesimpulan perolehan dihadapan manusia. Jangan-jangan orang yang kita tuduh tiba-tiba telah tersesat berada dalam surga karena Allah simpati sebab ia selalu dianiaya dan difitnah mahlukNya yang lain. Bukankah Allah Maha berkehendak ? Bukankah Allah selalu mendengarkan doa orang yang teraniaya ?... Maka bila engkau ingin mendapat surganya, sesatkanlah...aniayalah diri sendiri dengan memerangi kegelapan hawa nafsu sampai tak tampak mahluk apapun selain aku dan AKU. Maka tibalah waktunya disetiap pengajian-pengajian, organisasi-organisasi, partai-partai yang mengatasnamakan Islam, mengkaji kembali, menancapkan dalam hati dan fikiran makna-makna dalam surat Al Hujuraat. Memang isi surat ini bagi kondisi sekarang nggak trend, kurang heroik, nggak seru, tidak mencetak gambaran kepahlawanan, melunturkan kesukuan dan melemahkan doktrin aliran. Itu semua tergantung seberapa seriusanya iman kita terhadap Allah dan rasulnya. Dan hanya diri kita sendiri yang tahu apakah kita sesat dengan mengukur dada ini sempit mudah bergejolak atau telah lapang, selapang padang mahsyar... Wassalam |