My Friends: juliahmad
My Blogs


juliahmad Milad Pernikahan - Subscribe
Juli Asnati – Ahmad Gazali
(Sebuah persembahan untuk pernikahan kami)

2 tahun yang lalu…
Masih kuingat betapa gugupnya ketika pertama kali aku melihatmu
Seakan tak percaya ketika kau ucapkan “mitsaqon Gholizo” dihadapan Allohu Rabbi
Menggenapkan separuh agama dihadapan orang-orang tercinta

2 tahun lalu
Masih kuingat betapa deg-degan hatiku
Ketika kau dan rombonganmu belum juga tiba
Menanti dengan harap-harap cemas
Di sudut relung hatiku

2 tahun lalu
Betapa kubersyukur kepada Alloh SWT
Atas hadiah milad kelahiran yang tiada kira
Seorang pendamping hidup
Yang berikrar setia, sehidup semati
Mengarungi samudera kehidupan rumah tangga
Dengan penuh cinta dan ridho Ilahi Rabbi

Kini 2 tahun sudah
Kita arungi bahtera rumah tangga kita
Sebuah umur yang masih sangat terlalu muda
Sebuah perjuangan panjang akan menanti dihadapan

Kini 2 tahun sudah
Usia pernikahan kita
Dengan seorang anak laki-laki mungil
Yang selalu menghiasi relung-relung jiwa
Pelipur lara, pelepas dahaga

2 tahun sudah
Bersamamu kulalui suka dan duka
Bersamamu dan bersamamu
Kubelajar menuai hikmah kehidupan
Misteri Ilahi yang tiada terkira


Alhamdulillah …..

Jakarta, 10 Juli 2004 – 10 Juli 2006
Gak terasa ya kak, sudah 2 tahun….
0 Comments

juliahmad Menjelang Kelahiran Ahmad Hilmy Al Bukhari Jul 5th, 2006 10:34:04 pm - Subscribe
Sore itu, tanggal 16 Mei 2005, perutku kembali mulas. Mulasnya belum teratur, hanya sesekali saja. Datang dan pergi. Seperti 3 hari sebelumnya aku mulai mengeluarkan darah kotor yang berwarna hitam seperti layaknya orang yang mengalami menstruasi. Untuk menghilangkan rasa gugup, kembali kutelepon suamiku tercinta, Ahmad Ghazali yang sedang bekerja didaerah Kebagusan, Jakarta Selatan.
“Hallo, assalamu’alaikum…. Kak, perutnya mules dan kembali keluar darah seperti kemarin, kataku padanya.” “ Ya sudah, kamu istirahat aja, nanti kakak pulang cepat,” jawab suamiku.

Beberapa menit kemudian, suamiku menelepon kembali. “Tadi kakak telepon ibu, katanya keluar darahnya sebagai tanda kalau harinya sudah dekat. Kakak pulang sekarang, kamu hati-hati di rumah ya, mmmmuaahhhh”, jawab suamiku diiringi dengan kecupan sayang yang selalu ia lontarkan meskipun lewat telepon.

Pukul 13.30 kakak sampai di rumah. “Bagaimana? Masih mules dan keluar darah?”, tanyanya. “Mulesnya cuma sebentar-sebentar kak, tapi darahnya masih keluar aja meskipun sedikit-sedikit”, jawabku. “Ya sudah, nanti selepas sholat ashar kita periksa ke bidan ya?, jangan takut dan cemas, insya Alloh semua berjalan lancer,” kata suamiku sambil menguatkan aku yang kelihatan cemas, takut dan gelisah.

Selepas sholat ashar kami berangkat ke bidan. Sebelumnya, kami pamit pada emak. “Mak, kami mau periksa dulu ke bidan, si ati udah mules-mules”, pamit suamiku pada emak. Tak kusangka emak menitikkan air mata sambil berujar dan berdoa, “Ya sudah sana, hati-hati di jalan”.

Karena jarak antara bidan dengan rumah emak cukup dekat, kami ke sana dengan berjalan kaki (waktu itu kami belum punya kendaraan bermotor). Sepanjang perjalanan kurasakan betapa orang-orang yang tinggal di lingkunganku turut mendoakan aku supaya selamat dalam menjalani proses persalinan nanti. Sungguh, sebuah ungkapan doa yang tulus dari tetangga-tetanggaku. Kandunganku memang sudah berusia 9 bulan lebih. Rasanya sudah semakin berat saja aku melangkahkan kaki. Baru jalan beberapa meter saja, aku sudah ngos-ngosan. Suamiku tahu benar kalau aku kecapekan dan kepayahan sehingga untuk menghiburku dia selalu bercerita diiringi dengan canda tawa agar aku tidak kecapekan dan stress karena ingin melahirkan.

Kurang lebih ½ jam kami menempuh perjalanan dari rumah ke bidan. Sesampai di sana, sekitar pukul 17.00. Bidan tempat kami periksa bernama bidan Ilah Sartono. Maklum saja, beliau termasuk bidan yang banyak digemari masyarakat dan cukup terkenal dimunjul dan daerah sekitarnya. Karena itu, setiap kami periksa pastilah mengantri. Tapi, kadang-kadang keki juga kalau disuruh antri karena ada aja pasien lain yang menyelak dan tidak mau tahu antrian di belakangnya. Kalau sudah begitu, suamiku melarang aku untuk marah dan ia mengalihkan perhatian aku ke pembicaraan lain yang dapat membuatku tertawa.

Kupencet bel diruang periksa bidan itu. “Silahkan masuk bu,”ujar staf bidan ilah dengan ramah. “Ada apa, sudah mulai mules-mules?”, Tanya bidan itu. “Iya nich mbak, sudah mulai mules dan keluar flek seperti orang yang sedang mengalami menstruasi,”kataku. “Oh..itu mah biasa kalau menjelang kelahiran. Mari bu, rebahan kita periksa dalam dulu yach”, ujar bidan tersebut. Oooo…periksa dalam lagi? Ahhh..tidak…sebelumnya aku sudah menjalani periksa dalam dengan bidan yang sama. Jari bidan tersebut masuk ke lubang vaginaku. Terasa sedikit nyeri rasanya. “Oohhh…masih bukaan satu bu, pak. Pulang dulu aja yach. Nanti kalau mulesnya sudah mulai teratur 10 atau 5 menit sekali ibu dan bapak cepat-cepat kemari. Atau kalau air ketubannya sudah pecah meskipun tidak disertai dengan mules-mules cepat-cepat dibawa kemari istrinya pak. Khawatir kalau kelamaan, air ketubannya bisa meracuni bayi yang ada di dalam kandungan.”, ujar bidan itu menjelaskan. “Ohh, begitu ya. Terima kasih ya mbak,” ujar suamiku.

Karena masih bukaan satu, kami kembali pulang ke rumah dengan berjalan kaki kembali. Pulangnya kami membeli 2 potong fried chicken karena di rumah tidak ada makanan. Sesampai di rumah tak lupa kami mengucapkan salam pada emak.”Assalamu’alaikum, masih bukaan satu mak. Jadi disuruh pulang dulu,” kata suamiku. Ibu kami diam saja. Sampai di rumah tepat adzan maghrib. Seingatku, waktu itu ia sholat maghrib dan isya di rumah karena khawatir dengan keadaan aku. Aku ingat waktu itu hari senin, dan di trans tv ada salah satu program yang sangat digemari suamiku. Yup, Extravaganza. Suamiku senang sekali nonton extravaganza. Kalau sudah nonton, ia akan tertawa terpingkal-pingkal. Aku juga tak mengerti kenapa ia suka sekali nonton extravaganza. Sambil menonton extravaganza, kami makan fried chicken yang tadi dibeli. Selepas makan fried chicken kembali perutku mules. Mules yang kurasakan seperti mau buang air besar. “Kak, mules, mau buang air besar”, kataku pada suami.”Bener mules mau buang air besar bukan mules mau lahiran?”, tanyanya. “Iya, aku buang air besar dulu yach.,” kataku. “Ya sudah, hati-hati.”, doa suamiku.

Selepas buang air besar kembali aku duduk menemani suamiku nonton extravaganza. Tapi kenapa perutku tambah sakit. Belum lagi punggung dan pinggangku yang nyeri sekali. Karena sudah tidak tahan lagi dengan rasa mulesnya akhirnya suami menyuruhku untuk beristirahat di kamar. Ya Alloh, kucoba pejamkan mata tapi tak bisa. Rasa mules itu kian hebat rasanya. Datang dan perginya pun mulai teratur. Pertama 15 menit sekali, rasa mules itu datang dan pergi. Lama-lama jaraknya semakin dekat, yaitu menjadi 5 menit sekali. Aku berusaha memanggil-manggil suamiku. “Kak, kak, sakit, sakit sekali,” lirihku. “Ya udah, tiduran aja dulu.” Enggak bisa kak, sakit banget, hiks hiks hiks.” Suamiku kelihatan bingung dengan rasa sakit yang kualami. “Aduh, sakit kak, sakit”. “Yang sabar yach”, jawab suamiku. Tidak lama kemudian, telepon berdering. Samar-samar kudengar suamiku sedang berbicara dengan ibu mertuaku. Rupanya feeling ibu mertuaku cukup kuat, ia dapat merasakan apa yang sedang terjadi pada anak-menantunya. “Kakak mandi dulu yach, kamu tiduran dulu,” pinta suamiku. “Jangan lama-lama kak, sakit sekali, hiks hiks hiks”. “Iya, cuma sebentar kok”, jawab suamiku.

Subhanalloh, inikah tandanya. Benar kata bidan tadi kalau rasa mules sudah mulai teratur dalam jangka waktu 5 menit sekali maka harus buru-buru dibawa ke bidan. “Oohhh…sakit sekali Ya Alloh. Astaghfirullahal adzim…
Dulu sebelum aku menikah, aku selalu kesakitan ketika datang bulan. Tapi, rasa sakit yang kurasakan menjelang persalinan sungguh sangat dahsyat. Perut ini serasa ditikam-tikam, diputer-puter hingga rasanya tidak karuan. Sungguh perjuangan yang sangat berat. Aku mencoba bertahan atas rasa mules ini dan mulai menikmati rasa mulesnya. Ada sedikit rasa kagumku pada Sang Khalik yang menciptakan rasa mules ini secara beraturan. Tak ada yang memberikan perintah kepada perut ini untuk mules secara 5 menit bahkan 3 menit sekali kecuali Alloh SWT.

Suamiku datang dan mulai mengemasi beberapa pakaianku dan pakaian bayi yang sudah mulai kutata jauh-jauh hari. Kulihat jam didinding kamar menunjukkan pukul 24.00 WIB. Ya Alloh, bagaimana kami harus ke bidan tengah malam begini?. Pelan-pelan suamiku membangunkan ibu kami yang sedang tertidur pulas. “Mak, ati sudah mulai mules-mules, kayaknya mau melahirkan, kami mau berangkat ke bidan”, ujar suamiku. “Mau naik apa ke sana, malam-malam begini?”, Tanya emak. “Kamu masih kuat jalan? Tanya suami padaku. Aku sudah tidak sanggup berkata-kata sehingga aku diam saja, tidak menolak juga tidak mengiyakan pertanyaaan yang dilontarkan suamiku. “Ya Alloh, mana tengah malam begini. Coba tunggu sini, emak panggilin bang lili dulu,” pinta emak kami. Bang Lili adalah kakak ipar kami yang rumahnya terletak di depan rumah kami. Tak lama kemudian, bang Lili datang sambil bertanya,”Kenapa? Dah mules-mules? Pinjam mobil Pak mante (mantan RT-red) aja ya?”, kata beliau. “Gak usah, bang Lili, kita mau jalan kaki aja,” kata suamiku. “Emangnya masih kuat jalan kaki?”, tanya bang Lili. “Udah li, minta tolong sama Pak mante aja. Telepon aja ke rumahnya,” pinta emak yang sudah mulai panik. Bang Lili mulai memencet beberapa nomor yang ditujukan ke mante. Lama telepon tersebut tidak diangkat. Mungkin mereka sudah terlelap tidur dengan mimpinya masing-masing. Ada rasa tidak enak di hati ketika harus mengganggu ketentraman orang lain dan aku yakin suamiku pun merasakan hal yang sama. Tak lama kemudian telepon kami direspon sama anaknya. “Hallo, nur, ada Bapak gak.?”. “Ada, tunggu sebentar yach.” “Hallo, ada apa?”, tanya mante. “Hallo pak, ini Lili, mau minta tolong sama Bapak, Ati mau melahirkan, bisa kami meminjam mobil untuk ke bidan Ilah?”, tanya kakak iparku. “Oh, iya, bisa, bisa, langsung aja ambil di rumah.”, jawab mante. “Terima kasih pak, assalamu’alaikum.”, jawab kakak iparku. Percakapan yang cukup singkat itu ditutup dengan ucapan salam.

Kami bertiga (aku, suami dan kakak iparku) berangkat ke rumah mante untuk meminjam mobilnya. Alhamdulillah, untung ada mante yang bersedia meminjamkan mobilnya. Kami tiba di bidan sekitar 24.20. . Sesampai disana penghuninya sudah tidur semua. Tapi, tidak apa-apa karena bidan tadi bilang kalau sudah tidur, dipencet aja belnya Bang Lili pulang ke rumah setelah mengantar kami. Sebelumnya ia menawarkan diri untuk turut menunggui aku melahirkan. Tapi, suamiku melarangnya. Jam berapapun mereka siap melayani.

Teet…teet…teet. Lama kami memencet bel kamar periksa. Selang beberapa menit, bidan yang tadi sore memeriksa aku menyambut kami dengan sangat ramah. “Kenapa, mules lagi yach?”, tanyanya. “Iya nih mba, konstraksinya sudah 5 menit sekali”, kata suamiku. “Yuk, kita periksa dalam lagi,” ajak bidan tersebut. Ya Alloh, periksa dalam lagi. Hal itu berarti vagina aku akan kembali dimasukkan jari ibu bidan seperti sebelumnya.
Kutepis semua rasa galau dan rasa sakit. Aku sudah pasrah saja dengan apa yang akan terjadi. Kurebahkan badanku ditempat periksa.”Oohhh..masih bukaan tiga bu, tapi ibu sebaiknya menginap saja disini, tidak usah pulang ke rumah lagi. Paling-paling besok pagi baru lahir,” kata bidan tersebut. Bukaan tiga? Berarti masih ada 7 bukaan lagi yang harus kulalui. Akhirnya, demi menjaga keselamatan kami, kami menginap di rumah bidan tersebut. Bidan tersebut menanyakan pada suamiku mau masuk kelas berapa, kelas 1, 2 atau 3. Lalu kami menuju ke kelas 3 untuk mengecek keadaannya. Setelah melihat-lihat sebentar, suamiku memutuskan untuk memilih kelas 1 karena keadaan kelas 3 yang cukup berantakan. Suamiku tidak tega kalau aku di kelas 3 karena aku bakalan tidak nyaman dengan keadaan yang serba terbuka dan banyak orang.

Sepertinya bidan memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyiapkan kamarku. Di sela-sela menunggu itu, rasa mules kembali datang dan pergi. Kali kontraksinya lebih lama dan sering. Selain itu, aku cukup gugup menghadapi proses persalinan nanti. Khawatir, takut, resah dan gelisah, semua menjadi satu. Dan tampaknya suamiku pun tahu hal tersebut. Untuk menghiburku ia kembali melawak dan melontarkan canda biar aku tidak memikirkan rasa takut yang menghinggapiku. “Sudah, tenang saja. Bayangkan saja kalau dia sudah lahir, digendong-gendong dan diajak bercanda,” kata suamiku menghibur. Sesekali akupun tertawa mendengar celotehannya. Ia memang pandai menghibur dan terkadang akupun bisa dibuat tertawa terpingkal-pingkal dengan tingkah polanya.

Dari kejauhan, tampak bidan tadi menghampiri kami. “Ayo bu, silahkan, kamarnya sudah siap. Malam ini ibu coba tidur dan tenangkan diri saja,” ujar bidan itu. Wah, kamarnya lumayan juga. Begini ya rasanya mendapat kamar kelas 1. Nyaman, luas, ber AC, ada TVnya pula. Aku mulai merebahkan diri dan mencoba menenangkan diri. Tapi, Ya Alloh rasa mules itu datang lagi dan rasanya lebih hebat dari sebelum-sebelumnya. Jam sudah menunjukkan pukul 2.00 pagi. “Kak, sakit, sakit kak, hiks hiks hiks,” rintihku. “Yang sabar ya”, suamiku mencoba menegarkan. Kalau sebelumnya berlangsung 3 – 5 menit sekali, kali ini rasa mulesnya datang tiap 1 menit sekali diiringi dengan keluarnya darah kotor sama seperti ketika aku mengalami mentruasi. Darahnya hitam dan berbentuk gumpalan-gumpalan. Kata bidan, darah tersebut biasa keluar ketika akan melahirkan karena hal tersebut merupakan pengguguran lapisan-lapisan yang ada disekitar rahim.

Setelah agak tenang, suami meminta izin padaku untuk sholat malam. Kucoba menahan rasa sakit ini dengan tidak menangis supaya tidak menggangu kekhusyuan sholat suamiku. Tapi, air mata ini rasanya tidak dapat dibendung lagi. Begitu pula dengan isak tangis yang keluar dari mulutku. Beberapa kali suamiku membatalkan sholatnya. Ketika aku sedikit tenang akhirnya dia mulai sholat lagi. Kucoba sekuat tenaga untuk menahan rasa sakit ini dan tidak merintih selama suamiku menjalankan sholat malamnya. Ketika suamiku sedang sholat malam, tiba-tiba aku didera rasa mual yang luar biasa. Aku buru-buru bangun dari tempat tidur dan berlari ke wastafel. Subhanalloh, semua makanan yang aku makan keluar semua. Setelah muntah, rasa sakit sedikit berkurang.


“Ah….kak, sakit lagi, sakit kak, kakak…”, aku kembali merintih. “Sakit sekali kak, hah apaan yang keluar nich kak,” Buru-buru suami melihatnya. “Oh, gak apa-apa, yang keluar hanya gumpalan darah kotor,” jawab suamiku. “Beneran gak papa kak?”, tanyaku. “Iya, hanya gumpalan darahnya sedikit lebih besar dari yang tadi,” suami mencoba menjelaskan. “Baju kamu sudah basah oleh darah, yuk kita ganti biar enak tidurnya,” suamiku menawarkan. Aku ke kamar mandi dituntun oleh suamiku. “Kak, tadi aku muntah banyak,” kataku memberitahu suami. “Ya sudah, tidak apa-apa, sudah enakan kan?” tanya suamiku. “ho oh,” jawabku sambil menganggukkan kepala.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 4.00 pagi. Kurang lebih satu jam lagi adzan subuh. Kucoba paksakan diri untuk memejamkan mata. Tapi tetap tak bisa. Yang kuingat waktu itu aku cuma tidur sekitar ½ jam dan itupun diselingi dengan tangis karena menahan rasa sakit yang luar biasa.

Allahu akbar..Allahu akbar… Allahu akbar….
Alhamdulillah sudah subuh. “Kak, mau sholat subuh dimana?”, tanyaku.
“Kakak sholat disini saja, kamu yang tenang ya. Nanti selesai sholat kita panggil bidannya untuk memeriksa keadaan kamu,” jawab suamiku.
”Iya kak, insya Alloh,” jawabku.
Setelah menunaikan sholat subuh, suamiku memanggil bidan melalui bel yang ada di kamar kami. Tak lama kemudian bidan datang dan menyuruhku untuk periksa dalam kembali. Kali ini aku sudah tidak takut lagi untuk menghadapi periksa dalam karena rasa mules menjelang melahirkan mengalahkan segala-galanya. Kurebahkan kembali tubuhku di kamar bersalin. Kali ini yang meriksa bidan Ilah Sartononya langsung. Bidan Ilah bilang kalau aku masih bukaan 4. Dia menyuruhku untuk jalan-jalan sebentar, cukup jalan dihalaman rumah bidan saja. Bidan Ilah menjelaskan kalau jalan bisa mempercepat proses persalinan karena hal tersebut berlawanan dengan arah gravitasi (kalau tidak salah).

Lantas, suami mengajakku jalan, bolak-balik disekitar rumah bersalin tersebut. Tidak lama kemudian seorang bidan datang menghampiriku dan menghimbau agar kami jalan-jalanya cukup dihalaman saja, tidak usah keluar halaman. Akhirnya kami hanya berjalan mengelilingi halaman atau lebih tepatnya ruang tunggu pasien di rumah bersalin itu. Tiba-tiba perutku kembali mengalami rasa mules. Keringat dingin mulai bercucuran. Aku tak tahu apakah rasa mules itu suatu pertanda akan melahirkan atau tidak karena yang aku rasakan mulesnya itu seperti kepengen buang air besar yang sangat dahsyat. “Kak, mau buang air besar,” kataku pada suami. “Beneran mau buang air besar?” yuk duduk dulu, istrirahat disini.” Jawab suami sambil mengajakku duduk. Aku sudah tidak tahan dengan rasa sakit ini dan keringat sudah banyak keluar. Kini rasa dingin mulai menjalar ke seluruh tubuhku. “Kak, hiks hiks hiks sakit lagi, kak. Kak mau buang air besar. Ayo kak, ayo,” rengekku pada suami. Akhirnya suami mengajakku ke kamar periksa. Beliau meminta izin pada bidan karena aku mau buang air besar. Lama aku ditoilet, entah mengapa air besarnya tidak bisa keluar, aku hanya bisa buang air kecil dan merasakan mules yang intensitasnya semakin tinggi.

“Ayo bu, periksa lagi,” ajak bidan Ilah. Setelah diperiksa ternyata aku sudah bukaan 7 dan pada saat itu jam menunjukkan pukul 6.00 pagi. Benar saja kata bidan tersebut kalau jalan itu bisa mempercepat proses persalinan. Aku terbaring lemah di tempat tidur. Ku lihat suamiku yang kelihatan letih karena semalaman tidak tidur. Tak henti-hentinya ia memberikan aku semangat dan motivasi agar aku tidak putus asa.

Ya Alloh sungguh luar biasa perjuangan seorang ibu. Rasa mules itu belum hilang juga dan bidan yang menanganiku sepertinya agak kesal denganku karena aku tidak patuh padanya. Ia mengatakan kalau rasa mulesnya datang sebaiknya aku jangan mengejan karena hal tersebut akan merobek vaginaku. Sungguh, aku tidak bermaksud tidak patuh. Berkali-kali kucoba tidak mengejan ketika rasa mules itu datang. Tapi, itu semua berada di luar kendaliku. Aku tetap mengejan diiringi dengan keluarnya air seni. Bidan bilang kalau waktunya sudah tepat baru aku diperbolehkan mengejan tapi kalau cuma mules seperti orang mau buang air besar sebaiknya ditahan supaya robekannya tidak terlalu besar. Aku sudah tidak tahan lagi dan tak kuhiraukan hal itu. Yang penting buatku adalah aku sudah cukup berusaha untuk menahan supaya tidak mengejan sebelum waktunya.

Pukul 09.00 pagi ibu mertuaku datang. Bersamaan dengan itu datang pula sarapan pagiku. Sarapan telor dan segelas susu serta air teh manis. Sebenarnya aku tak ingin makan karena khawatir akan buang air besar. Tapi mereka bilang aku harus memiliki banyak tenaga supaya aku kuat ketika mengejan nanti. Kubayangkan wajah mungil bayiku sehingga hal tersebut mendorongku untuk tetap makan dengan lahap. Tak kuhiraukan yang lain, yang terpenting sekarang adalah bahwa aku harus melalui ini semua dengan baik dan tetap menggantungkan semua harapan pada Alloh SWT. Satu hal lagi bagaimanapun caranya aku harus tetap bisa melahirkan secara normal karena kalau melalui operasi Caesar biayanya terlalu mahal. Budget kami hanya cukup untuk persalinan normal dan aku tidak mau menyusahkan suamiku dengan membebani biaya persalinan yang cukup tinggi. Hal itu pulalah yang terus memotivasiku agar aku tetap kuat menjalani proses persalinan ini secara normal.

Setelah makan, alhamdulillah aku memiliki energi lagi. Tapi, bukan berarti rasa mulesnya hilang. Seperti biasanya, ia datang dan pergi dalam durasi yang cukup cepat. Kutanyakan jam kepada suamiku. Saat itu sudah pukul 10.00 WIB. Bidan kembali memeriksaku. Kali ini aku sudah memasuki bukaan 9. Berarti tinggal 1 bukaan lagi yang harus kulalui. Ya Alloh kuatkan hamba untuk melalui semua ini. Tak lama kemudian, HP suamiku berbunyi. Oo.. ternyata dari nani (biasa kupanggil dengan sebutan G), teman kantorku sekaligus sahabat kecilku yang setia menemani kemanapun aku pergi. Ia menanyakan bagaimana keadaanku. Entah darimana ia tau kalau aku sedang menghadapi proses persalinan.

Suamiku izin untuk keluar sebentar. Kini, aku ditemani ibu mertuaku. Dari jauh kulihat adik iparku, Zaharawati telah datang untuk menemaniku juga. Kali ini aku lebih santai menghadapi rasa mules yang datang. Beberapa menit kemudian, suamiku masuk kembali. Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB. Tak terasa sudah hampir 7 jam aku terbaring di tempat tidur ini namun tak kunjung pula si jabang bayi menampakkan kepalanya untuk lahir ke dunia. Akhirnya, bidan Ilah memutuskan untuk memberikan induksi. Mulailah jarum-jarum kecil itu beraksi dan kurasakan air infus mengalir memasuki tubuhku secara perlahan. Allahu Akbar, rasa mules itu datang lagi dan sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk melahirkan. 6 bidan secara sekaligus menanganiku. Bidan Ilah dan 2 stafnya membantu mendorong perutku dari atas sedangkan yang lainnya dari bawah. “Ayo bu, dorong terus, kepalanya sudah terlihat, jangan berhenti di tengah jalan bu,” ujar bidan Ilah sambil memberikan motivasi. “Iya, sedikit lagi…….”.

“Kakinya diam saja, jangan bergerak, di bawah kaki kamu sudah ada bayinya,” suamiku berkata. Ah, subhanalloh, tak terasa anak kami sudah keluar tepat berada di bawah kakiku. Kutanyakan pada suami apa jenis kelamin anak kami. Ternyata sesuai dengan apa yang kami lihat di mesin USG. Laki-laki, alhamdulillah….ia lahir dengan selamat, tak kurang satu apapun. Sempurna dan tampan rupanya. Alhamdulillah, rasa syukur tak henti-hentinya kupanjatkan kepada-Nya karena anak kami lahir dengan selamat dan tanpa cacat. Kini, tak kurasakan lagi rasa sakit yang aku alami, hal itu sudah terbayar dengan keselamatan anak kami.

Bidan langsung membawa anak kami dan membungkusnya dengan kain bedong. Anak kami kemudian diperlihatkan kepadaku. Subhanalloh…..
Setelah ditimbang dan diukur, bidan memberitahu bahwa anak kami lahir dengan berat 3,7 kg dan panjang 51 cm. Pantas saja, ia susah dikeluarkan karena beratnya melebihi kapasitas normal. Alhamdulillah, bidan yang menanganiku cukup sabar sehingga aku tidak perlu menjalani operasi Caesar. Mungkin kalau aku ditangani dengan dokter, ia akan menyuruh kami untuk melakukan operasi Caesar sehubungan dengan berat sang bayi.

Ternyata, perjuangan belum berakhir. Setelah bayi keluar, aku harus menjalani beberapa jahitan. Bidan bilang bukan dijahit, tapi diobras karena luka robeknya terlalu besar. Kurasakan dan kucoba untuk menikmati jarum-jarum yang menusuk satu persatu. Aku berusaha untuk tidak menangis dan alhamdulillah rasa sakit jahitan dapat kuabaikan karena aku sudah bahagia anak kami lahir dengan selamat. Aku hanya mendengar sedikit pujian dari bidan Ilah karena aku bisa menahan rasa sakit persalinan dan jahitan dengan sabar, tidak teriak-teriak seperti ibu-ibu kebanyakan. Terima kasih Ya Alloh atas karunia-Mu, terima kasih untuk suamiku tercinta, ibu mertuaku, adik iparku, ibuku dan saudara-saudaraku atas doa kalian semua.

Kini, anak laki-laki itu kami beri nama Ahmad Hilmy Al Bukhari yang artinya Seorang anak laki-laki yang terpuji, sabar dan senantiasa berusaha untuk menyenangkan orang lain. Amiiinnnn…

Terinspirasi dari ide teman kantorku, Ratu Hafshoh
Akhir Juni – 6 Juli 2006

1 Comments
Mood: blessed

juliahmad Desah Jun 29th, 2006 10:29:06 pm - Subscribe
Ehmmm....Astaghfirullahal Adzim....
0 Comments

juliahmad Uang Jun 29th, 2006 9:34:24 pm - Subscribe
Untuk kata yang satu itu, manusia manapun pasti akan memikirkannya. Mulai dari manusia dengan tingkat ekonomi rendah sampai kepada manusia tingkat ekonomi tinggi pasti tidak pernah lupa padanya. Pun pada masyarakat yang memiliki tingkat kepafaman agama yang cukup baik tak lepas darinya. Yup, uang. kita hidup di dunia ini perlu uang. Tak ada yang butuh uang, terlebih lagi hidup di zaman sekarang yang semuanya serba berada di luar batas. Tapi, apakah cukup hanya memikirkannya saja? Memikirkan dalam arti bagaimana memperolehnya. Dalam Islam, masalah uang sangat mendapat perhatian. Ia termasuk salah satu bentuk rezeki yang Allah SWT berikan kepada manusia. Dari cara mendapatkan sampai membelanjakan, semuanya harus dipertanggungjawabkan kepada-Nya. Apakah uang yang kita miliki diperoleh dari jalan yang halal atau haram dan untuk apa uang tersebut dibelanjakan. Kalau dipikir kembali, ternyata semua pengaturan tersebut ada hikmahnya. Uang yang kita peroleh akan kita gunakan untuk konsumsi yang nantinya akan berubah bentuk menjadi makanan yang masuk ke dalam tubuh kita dan seluruh jiwa kita. Karena itu, apabila uang tersebut halal dan baik, insya Allah akan mengalir ke dalam tubuh kita sesuatu yang baik. Tapi, sebaliknya jika yang masuk ke tubuh kita berasal dari sesuatu yang haram, maka akan ternodailah darah kita dengan barang haram itu. Hal ini akan berdampak pada tingkah laku kita dan hubungan kita baik secara vertikal maupun horizontal.
Hal itu sesuai dengan Hadits Rasullullah Muhammad SAW, bahwa di dalam tubuh manusia ada seonggok daging. Jika ia baik, maka baik seluruhnya dan jika ia buruk maka buruk pula seluruhnya. Seonggok daging itu adalah hati.

Teman, bagaimana dengan status uang kita? dari jalan yang halal kah atau sebaliknya?

Wallahu 'Alam Bish Showab

2 Comments

juliahmad Bubur Buah Manis Jun 29th, 2006 3:18:08 am - Subscribe
Bubur Buah Manis

bahan :
100 gr buah pir matang, cuci, kupas, potong kecil
15 ml air untuk memasak buah
1 sdt gula kastor
1 sdt tepung custard
75 ml air
1 sendok takar susu formula
100 gr pepaya matang, cuci , potong kecil

Cara membuat :

1. Masukkan potongan buah pir bersama air dan gula ke adlam panci. Tutup dan masak selama 10 menit sampai lunak. Angkat dan biarkan agak dingin.
2. Campur tepung cuctard dengan air. Jerang di atas api kecil dan aduk sampai mengental. Angkat dari api dan bubuhi susu formula. Aduk sekali lagi.
3. Tambahkan potongan buah pir serta pepaya. Masukkan ke dalam blender dan haluskan. Tuang kedalam mangkuk dan hidangkan segera.

1 porsi : 84 kalori
1 Comments
Mood: cantankerous

juliahmad Ekspresi Cinta Jun 28th, 2006 11:41:47 pm - Subscribe
Dia adalah seorang suami yang dianugerahkan Allah kepadaku
Bersamanya kulalui lika-liku kehidupan fana
Ada suka, duka, sedih dan gembira
Ada tangis, tawa, riang dan canda

Didadanya kutumpahkan segala rasa
Tempat aku berbagi semua cerita kehidupan
Tempat aku belajar ilmu kehidupan
Sarat hikmah dan makna

Bersamanya kuingin meraih cinta-Mu
Bersamanya kuingin syahid dijalan-Mu
Bersamanya dan bersamanya
Kubangun mahligai syurgaku

Ya Rabbi,
Berkahilah kehidupan rumah tangga kami
Agar hati kami senantiasa terpaut
Dilandasi oleh alqur’an dan sunnah
Dihiasi oleh iman dan takwa
Dibingkai oleh mahligai cinta-Mu

Jadikanlah buah cinta kami,
Permata hati, syurga dunia dan akhirat
Pelipur lara hati, penghibur diri
Pengingat kami akan besarnya nikmat-Mu
Menjadi Imam bagi orang-orang yang bertakwa

Aaamiiin….


Jakarta, 29 Juni 2006
Teruntuk suamiku dan buah hati kami tercinta
Ahmad Gazali – Ahmad Hilmy Al Bukhari

1 Comments
Mood: amazing

juliahmad it's about my baby Jun 28th, 2006 9:27:40 pm - Subscribe
lucunya punya anak. memang benar kata orang bahwa anak itu membawa kebahagiaan tersendiri bagi orang tuanya. anakku bernama ahmad hilmy al bukhari. ia baru berumur 13 bulan. sebenarnya sih sudah bisa jalan tapi rupanya masih agak takut kalau dilepas sendirian. kalau kami melihatnya tak bosan-bosan mata memandang, memperhatikan segala gerak-geriknya. ada aja sesuatu yang baru yang ia perlihatkan kepada kami dan membuat kami tertawa. Subhanallah, bahagia rasanya. Pun ketika ia tertidur pulas, wajah imut dan mungilnya yang tanpa dosa itu membuat aku betah berlama-lama menatap wajahnya dan mencium pipinya yang tembem. Hilmy, hilmy....we love u nak
1 Comments
Mood: cuddly

juliahmad Rumah Di Syurga Jun 28th, 2006 3:48:45 am - Subscribe
Rumah di Syurga

Pagi ini kusempatkan membaca hadits arbain yang baru saja kubeli dari murobbiku, ahad kemarin. Aku membaca dengan seksama hadits arbain no. 18. Isinya kurang lebih memerintahkan kita untuk selalu bertakwa kepada Allah SWT dan membalas kejahatan dengan kebaikan. Tersentak aku membacanya, karena aku sadar betul kalau masih banyak tindakan dan perilaku aku yang tidak mencerminkan ketakwaan kepada Allah. Pun, banyak pula perbuatan jahat orang lain kubalas dengan perbuatan jahat. Hal itu semua kulakukan karena aku masih terbawa oleh nafsu diri yang dipengaruhi oleh syetan yang terkutuk. Aku sadar dengan sepenuhnya kalau perbuatan yang aku lakukan itu dosa. Karena itu, berkali-kali pula kuucapkan dengan kalimat istighfar memohon ampun pada-Nya atas segala dosa yang telah aku lakukan.

Aku ingin menjadi muslimah yang sholeha yang kelak akan memiliki rumah abadi di syurga nanti, bersama suami, anak-anak dan keluarga besarku. Namun, belum setitikpun aku melakukan hal-hal yang dapat membuat keinginan dan cita-cita mulia itu terwujud. Seperti layaknya bila kita ingin membangun rumah didunia, maka kita mulai mempersiapkan dana dan material yang dibutuhkan. Begitu pula dengan rumah disyurga, selayaknya sejak didunia kita sudah mulai mengumpulkan modal dan material yang dibutuhkan untuk membangun rumah disyurga yang diidamkan. Bagaimana jalannya? Pastilah aku sudah mengerti jalan untuk mendapatkan rumah disyurga.

Islam merupakan agama yang mudah dan islam telah memaparkan segala bentuk perilaku dan tindakan kebaikan mulai dari yang sederhana sampai kehal yang sulit agar kita bisa memiliki rumah disyurga. Salah satu jalan termudah adalah tersenyum dan menjaga perasaan saudara atau teman kita. Tersenyumlah dengan tulus sehingga dapat memancarkan keceriaan diwajah kita dan memberikan kedamaian bagi yang menerimanya dan jagalah perasaan teman-teman kita agar tidak tergores hatinya walaupun sedikit. Insya Allah semua akan terwujud dan sebuah bangunan megah disyurga akan menanti diiringi dengan senyuman tulus dari penghuni-penghuni yang lainnya.

Wallahu ‘Alam bish showab

Jakarta, 12 Juni 2006
happy.gif happy.gif
0 Comments

juliahmad Assalamu'alaikum wr wb Jun 28th, 2006 3:13:47 am - Subscribe
alhamdulillah, dapat blog gratisan lagi nich. bisa mengcreate semua ide-ide lagi deh. alhamdulillah
1 Comments
Mood: find