NAFAS PERJUANGAN
Date: Jul 5th, 2006 9:44:20 pm - Subscribe
Mood: Masih tetap bersemangat
Catatan: Puisi ini merupakan sumber motivasiku disaat diriku mulai lengah

Seandainya Nafasku masih Panjang
Perjuangan ku kan tetap berjalan

Seandainya nafasku semakin pendek
Perjuangan ku tak akan mandeg

Jika Nafasku mulai terputus-putus
Perjuanganku akan tetap berada di Jalan yang Lurus...

dan bila pada akhirnya Nafasku telah terhenti
suatu saat nanti,
Akhir kehidupan, ku harap hanyalah Ridho Illahi

Created by : Ratu karitasurya (Cherry)
Comments: (0)


Ketika harus berjilbab (Memorabilia Bersama Ayah-2)
Date: Jul 5th, 2006 3:36:54 am - Subscribe
Mood: Istiqomah
Catatan: yang baik ambil sebagai pelajaran yang buruk harap ditinggalkan

Masa apakah yang paling membahagiakan bagi setiap orang? Mm.. rata-rata orang akan menjawab Masa Remaja adalah masa dimana setiap orang merasa bahagia, disaat tubuh sedang kuat untuk melakukan apa saja, menentukan arah jati diri yang sedang dicari, mulai tertarik dengan lawan jenis, ingin terlihat menarik di depan orang lain. Well, singkatnya mengekspresikan diri menuju kebebasan.
Hal itu juga terjadi pada diriku, kongkow sama teman-teman sekolah, window shopping ke Mall (walaupun sebenarnya gak beli apa-apa), apalagi sebagai seorang cewek, mungkin fitrahnya selalu ingin mengikuti mode yang sedang in.

Masa remajaku

Ayah saya termasuk orang yang sangat keras dalam mendidik anak-anaknya, termasuk dalam hal Agama, dulu Aku ingat sekali ketika masih berumur 10 tahun dan belum mau sholat juga, Ayah memarahiku dan berkata akan menghentikan uang jajanku selama satu minggu kalau Aku tidak mau sholat, yah demi uang jajan kala itu, akhirnya Aku pun melaksanakan Sholat walaupun sambil menangis. Semakin beranjak remaja terjadi perubahan secara fisik pada diriku, di saat itu Ayah mulai memberikan arahan agar Aku menutup Aurat dengan memakai jilbab. Huaaaa…! Mendengarnya saja sudah membuat aku phobia apalagi mengenakannya, Dasar Keras Kepala. Walaupun Aku setuju dengan perintahnya untuk mengenakan busana muslimah ke sekolah dan bepergian, tapi kalau main ke tetangga atau ke rumah teman terdekat, yah biasa saja. Rupanya kelakuanku terlihat juga oleh beliau, tapi kali ini beliau punya jurus Ampuh, ketika aku keluar rumah tanpa jilbab beliau langsung memanggil dan mengajakku jalan-jalan, Wow! Ajaib biasanya kalau Aku disuruh pulang ke rumah itu tandanya aku pasti diomeli lagi, tapi kali ini malah diajak ke Toko Busana Muslimah di Mall, rupanya Ayah mengajakku untuk membelikan baju muslimah untukku, senang sekaligus heran terhadap kelakuan Ayah, Pasti ada udang di balik bakwan kataku dalam hati dan ternyata Ayah memang sudah menyiapkan sejuta rencana, begitu aku lulus SD aku akan dimasukkan ke ‘Kandang Macan’ ini sebutan khusus bagiku untuk istilah pondok Pesantren. Rencana Ayah untuk memasukkan ku Ke PonPes di luar kota tidak berjalan mulus, karena begitu pengumuman kelulusan tiba, Aku nekat pergi sendiri mendaftar ke SMP Umum Favorit di Bilangan Jatinegara, pulang pendaftaran Aku langsung menyerahkan formulir dan perjanjian Siswa baru ke Ayahku sambil mengatakan bahwa Aku sudah diterima di sekolah tersebut, Ayah terkejut begitu mendengar hasilnya. Aku tersenyum penuh kemenangan.

Hingga hidayah itu datang……
Dibalik setiap kejadian pasti selalu ada hikmah, dan Aku yakin bahwa ini merupakan Program skenario Allah, aku diperbolehkan masuk SMP umum oleh Ayah tapi dengan satu syarat HARUS TETAP BERJILBAB. Walaupun syarat yang diajukan sangat berat buatku, tapi setidaknya aku lepas dari ‘Kandang Macan’, mulailah di SMP tersebut aku mengikuti berbagai macam kegiatan organisasi, mulai dari OSIS, Paduan Suara, PMR dan juga Organisasi ROHIS di sekolahku. Di saat itulah hidayah itu datang, seiring dengan intensitas ku mengikuti acara-acara ROHIS, ada seorang Kakak Alumni Ikhwan yang sangat menarik perhatianku (maklum cinta monyet), aku berusaha keras agar mendapat perhatiannya, tapi ia membalas dengan memberikan tausiah dan nasehat-nasehatnya, terutama tentang Hijab,. Karena Aku berjilbab di sekolah, dia sering menjadikan aku contoh di depan teman-temanku yang lain, sebagai contoh Muslimah pelajar (Hiks! Jadi malu deh) padahal aku belum se-kaafah yang dia kira, dari kejadian itu aku lantas merenung dan berpikir, hingga suatu hari dia memberikan sebuah artikel yang berjudul “menjadi Muslimah kaafah”, dalam artikel tersebut dijelaskan keutamaan seorang wanita sholehah dan ganjaran bagi wanita durhaka. Yah inilah Cinta sejati, setelah membaca artikel tersebut aku bertekad akan menutup aurat ku tidak setengah-setengah, bukan karena si dia, bukan karena desakan ayah, tapi semata-mata karena Lillahi ta’ala. Soal Ayahku? Jangan Tanya betapa senangnya beliau melihat perubahan sikapku.

Perjalanan ini penuh onak dan duri

Menjelang Ebtanas (sekitar tahun 199cool.gif Kepala Sekolah membuat kebijakan yang membuat aku jadi ‘gerah’, kebijakan klasik intinya photo STTB harus kelihatan telinga (tanggung amat Pak! Bilang aja kalau harus buka jilbab) sungguh ironi bagi negara yang katanya mengusung demokrasi, setiap hari aku dipanggil oleh Kepala Sekolah mengenai hal photo tersebut, aku stress dan jadi pemurung, bagaimana tidak, aku mendapat tekanan psikologis dari pihak sekolah, disaat sedang belajar aku dipanggil, disaat sedang ulangan dipanggil lagi. Banyak guru dan teman yang bersimpati terhadap pendirianku, namun tidak sedikit yang menyarankan agar aku menuruti kemauan pihak sekolah. Huh! Susah payah aku meraih hidayah ini, tak akan kulepas semudah itu. Pokoknya tekad ku hanya satu ‘Berjuang hingga lembar jilbab penghabisan’. Tidak tahan memendam persoalan tersebut sendirian aku laporkan permasalahan ini pada pihak yang berwajib (eit bukan kepolisian lho! Tapi yang wajib menjaga kehormatan putrinya) siapa lagi kalau bukan Ayah. Selain itu konsolidasi dengan teman-teman ROHIS dan alumni gencar aku lakukan, reaksinya sangat beragam, Ada yang mengusulkan agar melakukan demo, ada yang mendukung untuk tetap bertahan dan ada yang mengusulkan supaya dilakukan dialog diplomatis. Aku memilih yang terakhir, lebih kalem. Hari yang ditentukan tiba, ayahku, teman-teman Rohis dan perwakilan Alumni mengadakan dialog dengan pihak sekolah, dari dialog yang berjalan cukup alot itu, berakhir dengan happy ending, aku boleh memakai jilbab untuk pas photo STTB Alhamdulillah. Thank you Allah, Thank’s my Dad n Friends.

To My Dad Thanx for love n support, 4 All of My Friends keep Istiqomah, teruntuk kakak ku yang menghantarkanku ke gerbang hidayah-NYA, moga kau tetap diberikan hidayah untuk selalu di jalan-NYA.

Penulis : Ratu Karitasurya

Comments: (1)


Aliran Sesat dan menyesatkan
Date: Jul 4th, 2006 10:45:11 pm - Subscribe
Mood: carefull
Catatan: Kiriman dari seorang teman di HMI

Posting by : Ahmad Akbar (HMI)

Pernahkah dalam suatu perjalanan tiba-tiba tersesat ? Apa yang kita rasakan ? Kebingungan, pikiran bergejolak, saling menyalahkan teman seperjalanan, takut kehabisan bekal, dan kelelahan fisik mental yang mendera.

Kesesatan identik dengan kebuntuan, kegelapan dan meraba-raba. Hidup dalam kesesatan hanya selalu berdasarkan rabaan prasangka dan judi. Mental judi kalau menang menepuk dada kalau kalah panas dan selalu ingin menuntaskan permainan sampai tetes keringat terakhir.

Kesesatan dan kegelapan hanyalah karena obyek itu tidak disinari cahaya, baik cahaya keilmuan ataupun cahaya sesungguhnya. Cahaya keilmuan adalah cahaya logika berdasarkan keputusan indera yang dibakukan menjadi kebenaran temporer. Sedangkan "cahaya sesungguhnya" sebagai kubah tak terbatas yang menjadikan semua mahluk benar adanya dan selalu “dihidupi”. Cahaya ada yang berujud nyata seperti cahaya lampu senter sampai cahaya yang tak terlihat sinarnya namun terang benderang tak terbantahkan.

Sesungguhnya obyek mahluk tidak dapat memendarkan cahaya dari dirinya sendiri. Ia hanya ditimpa cahaya dan akhirnya terlihat. Ia hanya mendapat anugerah, mendapat hidayah dari pengarah cahaya. Objek yang tak tersinari menjadi gelap tak terlihat. Ini karena sang pemilik cahaya tidak mengarahkan cahayanya kepada objek tersebut. Pengarahan cahaya ke obyek tersebut adalah hak prerogratif sang pemilik sahaya. Sesat dan gelapnya objek hanya sang pemilk cahaya yang berhak menentukan.

Akhir-akhir ini marak lagi tuduhan sesat yang jelas dimunculkan tentu saja bukan untuk golongan sendiri apalagi untuk menuduh diri sendiri. Menuduh orang lain sesat kalau disadari ternyata sangat-sangat butuh keberanian luar biasa karena sesat dan hidayah bagaikan dua sisa keping mata uang yang tak bisa dipisahkan dari “genggaman” Allah. Karena hanya Allah lah pemegang hak prerogratif untuk menyematkan kedua hal itu pada mahluk yang dikehendaki.
Namun betapa beraninya kita melangkahi hak-hak Allah. Kita membaca ayat-ayat Nya bukan lagi untuk menelanjangi diri. Bukan lagi untuk mengelupas lapisan demi lapisan yang menyempitkan dada. Secara sadar membaca ayat Allah disamakan dengan menghafal pasal-pasal buatan manusia sambil diam-diam menyematkan lencana penegak hukum ke dada sendiri. Mengkudeta halus posisi Al Hakim Menyublimkan diri menjadi illah-illah kecil. Akulah kebenaran...aku berhak menghukum karena akulah yang berkuasa...atas ilmuku...atas pengikutku...atas jaringanku...atas pengaruhku...atas simpati-simpati yang telah kuraih..La Haula wala quwwata Illa Billah entah ketlingsut dimana...Seakan dunia ini tanpa kita tidak akan menjadi
benar.

Kita sudah kehilangan pegangan mana hak Allah mana hak mahluk. Kita tidak lagi sholat menghadap Allah. Kita sholat menghadap alam pikiran sendiri. Menyembah tafsir-tafsir, mahzab-mahzab, ideologi-ideologi, prasangka-prasangka, dan pengalaman-pengalaman ruhani yang tak seberapa dibanding Rasulullah yang super tawadhu dan rela hanya bertempat tinggal seluas nggak sampai duapuluh lima meter persegi demi menjaga cintanya yang tak tertandingi kepada Allah.

Kita menabrak-nabrak dengan gemuruh sifat api yang membakar dada. Mengumpulkan argumen-argumen baik dari yang klasik sampai post modern untuk kita muntahkan dihadapan diri sendiri dan kelompok. Kemudian kita kebingungan berjingkat-jingkat menghindari muntahan itu sendiri. Tiap hari kita disibukkan berjingkat dari muntahan sendiri. Karena setiap langkah identik dengan muntah. Suatu saat tiba-tiba kita terhenyak tiada lagi jalan yang bersih dari muntahan kita sendiri. Hidup menjadi terserimpung, tegang dan kaku. Dada kita terbakar oleh api yang kita ciptakan sendiri.

Apa yang Anda bayangkan bila suatu saat sang penuduh sesat dan tertuduh dalam puncak perselisihan bertemu dan berperang. Si penuduh maju tak gentar meneriakkan “Allaahuakbar” si tertuduh membela diri sambil meneriakkan “Allahummaa shalli 'alaa Muhammad” Maka negeri langit pun goncang...Para malaikat bingung dan berlari menuju singgasana Allah. "Ya Rabb ada dua kelompok mahlukMu yang berhadap-hadapan berbunuhan, yang satu mengangungkan namaMu yang lain memuliakan kekasihMu Muhammad. Hamba
mohon petunjuk untuk kelompok mana pahala dan dosa ditimpakan ?..."

Apa tafsiran jawaban kita terhadap jawaban Allah tentang kasus langka ini ? Itu tergantung kita ini menganggap seberapa besar Allah. Apakah hanya besar, agak besar, lumayan besar, pas besarnya sesuai ukuran keinginan kita, atau benar-benar maha besar tak terbatas tanpa “tedheng aling-aling” meliputi segala sesuatu baik yang menyembah maupun yang mengingkarinya. Atau juga seberapa besar cinta shalawat kita kepada rasulullah. Apakah cinta doktrin yang dipaksakan, cinta matre yang minta imbalan, cinta monyet yang mudah putus, cinta playboy yang kerjaannya tebar pesona atau bener-bener cinta tulus yang mengguncangkan dada hingga membuat diri selalu menangis sekaligus berbunga dan menjadi ramah kepada siapa saja yang ditemuinya.

Kalau kita gagal menemukan keMaha Besaran Allah, maka kerdillah diri kita seperti kita mengkerdilkan kekuasaan Allah. Kalau kita gagal mensuri tauladani cinta sang pecinta sejati Muhammad, maka pembencilah diri kita seperti orang yang membenci dan menuduh rasulullah sebagai orang gila berpenyakit ayan karena tidak mencintai benda dan kekuasaan.

Dan jangan-jangan kitalah yang sesat karena tidak dihidayahi Allah untuk membedakan mana benda mana cahaya, mana kata mana makna, mana lambang mana nilai, mana jalan mana tujuan, mana huruf mana kalam, mana api mana cahaya. Jangan-jangan kita ini yang sesat karena selalu dalam alam kegelapan yang hanya berilmukan rabaan prasangka logika dan kesimpulan-kesimpulan perolehan dihadapan manusia. Jangan-jangan orang yang kita tuduh tiba-tiba telah tersesat berada dalam surga karena Allah simpati sebab ia selalu dianiaya dan difitnah mahlukNya yang lain. Bukankah Allah Maha berkehendak ? Bukankah Allah selalu mendengarkan doa orang yang teraniaya ?...

Maka bila engkau ingin mendapat surganya, sesatkanlah...aniayalah diri sendiri dengan memerangi kegelapan hawa nafsu sampai tak tampak mahluk apapun selain aku dan AKU.

Maka tibalah waktunya disetiap pengajian-pengajian, organisasi-organisasi, partai-partai yang mengatasnamakan Islam, mengkaji kembali, menancapkan dalam hati dan fikiran makna-makna dalam surat Al Hujuraat. Memang isi surat ini bagi kondisi sekarang nggak trend, kurang heroik, nggak seru, tidak mencetak gambaran kepahlawanan, melunturkan kesukuan dan melemahkan doktrin aliran. Itu semua tergantung seberapa seriusanya iman kita terhadap Allah dan rasulnya.

Dan hanya diri kita sendiri yang tahu apakah kita sesat dengan mengukur dada ini sempit mudah bergejolak atau telah lapang, selapang padang mahsyar...


Wassalam

Comments: (0)


What Dose A Teacher Make?
Date: Jul 4th, 2006 10:24:30 pm - Subscribe
Mood: cool
Catatan: Terimakasih Sahabatku, seorang guru, yang dalam usia muda telah berani memutuskan menjadi seseorang yang mampu memunculkan apa yang terbaik dari kami, para murid.

The dinner guest were sitting around the table discussing life. One man, a CEO, decided to explain the problem with education. He argued: "What's a kid going to learn from someone who decided his best option in life was to become a teacher?"
(Para Tamu undangan Makan malam duduk disekitar meja untuk menghidupkan diskusi. Seseorang CEO memutuskan untuk menjelaskan tentang masalah dalam pendidikan. Dia bertanya : “Apakah anak2 belajar dari seseorang yang memutuskan bahwa seseorang menjadi guru dalam sebagai pilihan terbaik dalam hidupnya?”.
He reminded the other dinner guests that it's true what they say about teacher: "Those who can, do. Those who can't, teach."
(Dia mengingatkan para undangan Makan malam lainnya untuk mengatakan kebenaran tentang seorang Guru. “Siapa yang bisa melakukannya?, siapa yang tidak bisa mengajar”.
To corroborate, he said to another guest: "You're a teacher, Susan," he said. "Be honest. What do you make?" Susan, who had a reputation of honesty an frankness, replied, "You want to know what I make?" "I make kids work harder than they ever thought they could. I can make a C+ feel like a Congressional Medal of Honor and an A- feel like a slap in the face if the student did not do his or her very best.
Untuk menguatkan argumennya itu, dia berkata pada salah seorang undangan : “Susan, Anda sebagai seorang guru” dia mengatakan “Tolong ungkapkan secara jujur, apa yang Anda lakukan?”.
“Saya membuat anak2 bekerja lebih keras dibandingkan membuat mereka untuk berpikir apa yang mereka inginkan. Saya membuat mereka merasa bangga mendapat C+ dalam kongres Bintang kehormatan dan menampar keberanian merek jika para murid tidak berhasil melakukan yang terbaik”
"I can make kids sit through forty minutes of study hall in absolute silence. I can make parents tremble in fear when I call home.
Saya membuat anak2 dapat duduk tenang selama 40 menit untuk belajar dalam kesunyian yang absolut. Saya bisa membuat para orangtua merasa ketakutan ketika saya menelepon rumah mereka”.
"You want to know what I make?"
“Anda ingin tahu apa yang saya lakukan?”
"I make the kids wonder.
“Saya membuat anak2 sukses
"I make them question.
“Saya membuat mereka bertanya
"I make them criticize.
“Saya membuat mereka Kritis
"I make the apologize and mean it.
“Saya membuat mereka meminta maaf dan membuat mengerti tentang itu
"I make them write.
“Saya membuat mereka menulis
"I make them read, read, read.
“Saya membuat mereka membaca, baca, baca
"I make them spell definitely beautiful, definitely beautiful, and definitely beautiful over and over and over again, until they will never misspell either one of those words again.
“Saya membuat mereka mengeja dengan ejaan yang indah, mengeja dengan indah dan mengeja dengan indah lebih banyak dan banyak dan lebih lagi, sampai mereka tidak akan pernah salah dalam mengucapkan satu huruf pun
"I make them show all their work in math and hide it all on their final drafts in English.
“Saya membuat mereka menunjukkan semua pekerjaan matematikan mereka dan menyembunykan semua itu saat mereka menyelesaikan konsep naskah dalam bahasa Inggris
"I make them understand that if you have the brains, then follow your heart...and if someone ever tries to judge you by what you make, your pay them no attention.
“Saya membuat mereka mengerti jika Kau punya otak, lalu hatimu mengikuti dan jika seseorang pernah mencoba untuk menilai dirimu dari apa yang kamu lakukan, Kau harus membayar mereka dengan tidak memberi perhatian
"You want to know what I make?
“Kau mau tahu apa yang telah Saya Lakukan
"I make difference.
“Saya membuat perbedaan
"Do you?"
“Bisakah Anda?”

(If this essay does not inspire to keep on teaching, maybe you have picked the wrong profession!)
Jika essay ini tidak menginspirasi anda untuk tetap mengajar, mungkin Anda telah salah dalam mengambil profesi!)


Comments: (2)


Tuhan Sembilan Senti
Date: Jul 4th, 2006 3:42:20 am - Subscribe
Mood: Nice Reading
Catatan: aku juga punya hak untuk menghirup udara bebas

Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil 'ek-'ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Comments: (0)


Linux Tux Template
Free Blog Hosting Join Today
Content Copyrighted Cherry at Aeonity Blog