Imam Kedua Belas: Imam Muhammad al-Mahdi a s
Date: Nov 2nd, 2007 10:14:12 pm - Subscribe
Mood: punk


Ayah: Imam Hasan al-‘Askari a s.
Ibu: Narjis.
Tempat atau tanggal lahir: Samurra’ pertengahan bulan Syakban tahun 255 H.

Beliau mengalami masa ghaibah (ghaib dari pandangan manusia) dalam dua tahap; ghaibah shughrah (kegaiban kecil) dan ghaibah kubra (kegaiban besar atau total).
Ghaibah shughra: dan tahun 260 hingga tanun 329 H.
Ghaibah kubra berawal dan berakhirnya ghaibah shughra hingga waktu diizinkan Allah SWT dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia.

Al-Quthb asy-Sya’rani berkata dalam kitab al-Yawaqid wa alJawahir: Al-Mandi adalah putra Imam Hasan al-Askari dan keturunan Imam Husain, kelahirannya pada malam pertengahan bulan Sya’baan tahun 255H. Beliau akan tetap hidup hingga berkumpul dengan Nabi Isa putra Maryam a s, demikian diberitakan kepada kami oleh Syeikh Hasan al-Iraqi yang dikebumikan di Mesir dan pendapat itu disetujui oleh tuanku Ali Al-Khawaash. 64

Dalam buku Al-Bahrul Muhith, Abu Hayyan Al-Andalusi mengutip pendapat A-Sudiy mengenai firman Allah : "Untuk dimenangkan atas segala Agama" mengatakan: "Hal itu akan terjadi pada saat munculnya Al-Mahdi. Pada saat itu tak seorangpun manusia yang tinggal kecuali dia masuk kedalam Islam atau membayar pajak (Jizyah)".

Imam Malik (pemimpin mazhab Maliki) berkomentar mengenai firman Allah (QS. 28. 5) : "Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, dan hendak menjadikan mereka pemimpin, dan menjadikan mereka mewarisi (bumi)." sbb: "Pembuktian atas ayat ini belum terjadi, dan bahwa ummat Islam masih menunggu munculnya manusia yang akan menjadi sarana bagi terwujudnya ayat tersebut"(Ath-Thabarsi dalam Majma'ul Bayan fi Tafsir Al-Qur'an jilid V hal 24). Ketika kaum Alawiyin (keturunan Fatimah A S)tertimpah penindasan yang teramat sangat oleh penguasah Abbasiyah, Muhammad ibn Jakfar Al-Alawy mengadukan pada Imam Malik dan dijawab oleh Imam Malik bersabarlah sampai datang tafsirnya ayat tsb diatas (QS. 28. 5), demikian riwayat Abul Faraj Al-Isfahany dalam buku Maqatil Aththalibiyin hal 539.

Assayyid Abdullah Syabr dalam bukunya Haqqul Yakin jilid I hal 222 menuturkan bahwa hadits mengenai Imam Mahdi jumlahnya lebih dari lima ratus yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, penyusun kitab Jami'ul Ushul dan orang-orang selain mereka. Selanjutnya beliau berkata dalam kitab-kitab yang Mu'tabar dan kitab Ushul yang telah diakui, terdapat lebih dari seribu hadits.

Beberapa Hadis Tentang Imam Mahdi a s

Beliau adalah Imam kedua belas sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis yang telah lewat, beliau adalah Imam mahdi yang akan menegakkan keadilan di muka bumi sebagaimana dijanjikan dalam hadis-hadis mutawatir.
Dan demi kesempurnaan pembahasan kita, marilah kita simak sabda-sabda Nabi saww tentang Imam Mahdi as dan pernyataan para ulama tentangnya. Dan sekali lagi, kami hanya akan menyebut hadis-hadis dari jalur Ahlusunah Waljamaah.

1. Imam Ahmad dan al-Barudi meriwayatkan dan Abu Sa’id dari Rasulullah saww beliau bersabda:
"Gembiralah kalian dengan al-Mahdi, seorang dari suku Quraisy dari itrah-ku, dia keluar dalam kaadaan perselisihan manusia dan guncangan, lalu dia memenuhi bumi dengan keadilan setelah dipenuhi dengan kezaliman." 65

2. Abu Daud meriwayatkan dari Rasulullah saww beliau bersabda:
“Seandainya tidak tersisa dari dunia ini kecuali hanya satu hari niscaya Allah akan memanjangkannya sehingga Allah mengutus seorang dari Ahli-Baitku, namanya sama dengan namaku, dia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana is dipenuhi dengan kedzaliman.” 66

3. Abu Nu'aim bin Hammad meriwayatkan dari A’isyah dari Rasulullah saww beliau bersabda:
“Al-Mahdi dari itrah-ku, dia berperang atas sunahku sebagaimana saya berperang atas wahyu.”67

4. Imam Ahmad, Muslim, Abu Daud, an-Nasa'i, Ibnu Majah, al-Baihaqi dan sekelompok Ulama lain meriwayatkan dari Ummul Mu’minin Ummu Salamah r a. Bahwa Nabi saww bersabda:
“Al-Mahdi dari ‘Itrahku dan putra Fathimah. “68
Komentar Ulama Ahlusunah Tentang Kemutawatiran Hadis Kedatangan Imam Mahdi a s

Ibnu Hajar al-Asqallani berkata: “Telah mutawatir berita (hadis) bahwa Mahdi adalah dari umat ini dan sesungguhnya (Nabi) Isa putra Maryam akan turun dan salat di belakangnya.69

Asy-Syaukani dalam risalahnya yang berjudul at-Taudhih fi Tawaturi Ma Ja'a fi al-Mahdi al-Muntadzar wa al-Masih 70 berkata: “Dan Hadis yang datang tentang Mahdi yang dapat ditemukan adalah lima puluh hadis, ada yang shahih, hasan dan dhaif yang tertolong, dan ia mutawatir tanpa diragukan.”

Abdul Aziz bin Baz rektor Universitas Madinah Al-Munawarah berkata seperti dimuat di majalah al-Jami’ah al-Islamiyah, no. 3, hal 161 - 162 : “Sesungguhnya masalah al-Mahdi merupakan masalah yang menjadi pengetahuan umum, dan hadits-hadits mengenainya banyak sekali, bahkan mutawatir. Hadits-hadits itu menunjukkan bahwa munculannya tokoh yang dijanjikan ini merupakan suatu perkara yang telah tetap (kebenarannya yang tidak bisa diragukan lagi), dan kemunculannya adalah benar.

Seorang dozen dalam Universitas tersebut bernama Ustad Syeh Abdul Muhsin Al-Ibad dalam bukunya : Muhadharah haula al-imam Al-Mahdi wa At-Ta'liq 'Alaiha, hal. 26, yang juga disampaikan dalam kuliahnya yang berjudul "Akidah Ahlus Sunnah dan Atsar tentang Al-Mahdi Al-Muntadhar sbb: Jumlah yang saya ketahui dari nama-nama sahabat yang meriwayatkan hadits-hadits Al-Mahdi dari Rasulullah S A W, adalah 26 orang mereka adalah :

1. Ustman ibn Affan, 2. Ali ibn Abi Thalib, 3. Thalhah ibn Ubaidillah, 4. Abdurrahman ibn Auf, 5. Al-Husain ibn Ali, 6. Ummu Salamah, 7. Ummu Habibah, 8. Abdullah ibn Abbas, 9. Abdullah ibn Mas'ud, 10. Abdullah ibn Umar, 11. Abdullah ibn Amr, 12. Abu Sa'id Al-Hudri, 13. Jabir ibn Abdullah, 14. Abu Hurairah, 15. Anas ibn Malik, 16. Ammar ibn Yasir, 17. Auf ibn Malik, 18. Tsauban maula Rasulullah, 19. Qurrah ibn Ayas, 20. Ali Al-Hilali, 21 Hudzaifah ibn Al-Yaman, 22. Abdullah ibn Al-Harits ibn Hamzah, 23. Auf ibn Malik, 24. Imran ibn Husain, 25. Abu Ath-Thufail, 26. Jabir Ash Shadafi. Selanjutnya beliau berkata : "Dan hadits -hadits Al-Mahdi itu telah dinukil oleh sejumlah besar imam dalam kitab-kitab shahih dan sunan, Mu'jam dan Musnad, serta lain-liannya. Jumlahnya kitab-kitab mereka yang saya ketahui atau yang saya ketahui bahwa mereka menukilnya 38.

Sangat panjang sekali bila saya sebut satu persatu disini, sebagai contoh cukup dibawah ini:

Abu Dawud dalam Sunannya, Turmudzi dalam Jami'nya, Ahmad dalam Musnadnya dan Ibn Hibban dalam Shahihnya, Al-Hakim dalam Al-Mustadarak, Abu Bakar ibn Abi Syaibah dalam Mushnif, Al-Hafizh (si penghafal lebih dari 100.000 hadits) Abu Nu'aim dalam kitab Al-Mahdi, Ath-Thabary dalam ketiga kitabnya Alkabir, Al-awsath dan Ashshaghir, Darul Qutny dalam Al-Afrad, Ibnu Asakir dalam Tarikhnya, Assuyuthi dalam Al-Urf Al-Wardy dan Al-Hawy fil Fatawa, Ibnu Jarir dalam Tahzib al Atsar, Al-Baihagy dalam Dala'ilun Nubuwah, Ibnu Sa'ad dalam Thabaqod.

Para Ulama Ahlusunah yang Meyakini Kelahiran Imam Mahdi as

Kendati pendapat yang masyhur di kalangan Ahlusunah bahwa Imam Mahdi yang dijanjikan dalam hadis-hadis mutawatir belum lahir dan kelak akan lahir ketika masanya tiba, namun tidak jarang di antara ulama Ahlusunah yang meyakini bahwa Imam Mahdi yang dijanjikan dalam sabda-sabda Nabi saww tersebut telah lahir, dia adalah putra Imam Hasan al-Askari as lahir di kota Samurra’.

Mari Kita amati keterangan dibawah ini yang dinukil dari kitab : ”Is’af Al-Raghibin fi Sirah Al-Mushthafa wa Fadha’il Ahli Baithi Al-Thahirin” karya Al-Imam Al-Allamah Al-Arif Billah Al-Syaikh Muhammad bin Ali Al-Shabban Rahimahullah sebagai berikut :
Sayyidi Abdul Wahab Al-Sya’rani mengatakan di dalam kitabnya Al-Yawaqit wal Jawahir bahwa Al-Mahdi itu berasal dari putra Imam Hasan Al-Askari. Lahir pada malam pertengahan bulan sya’ban tahun dua ratus lima puluh lima Hijriyah. Ia tetap hidup sampai sekarang dan akan bergabung dengan Nabi Isa a. s. Demikianlah yang diberitahukan oleh Syaih Hasan Al-Iraqi kepadaku, dari Imam Al-Mahdi, ketika Syaih Hasan berjumpa dengannya, yang kebetulan dihadiri juga oleh Sayyidi Ali Al-Khawwash rahimahumallaahu Ta’ala.

Syaikh Muhyiddin di dalam kitab Al-Futuhat mangatakan : ”Ketahuilah Bahwa Al-Mahdi a. s. itu mesti keluar, namun tidak akan keluar kecuali apabila dunia sudah penuh dengan kezaliman dan dialah yang akan melenyapkan kezaliman itu dan menggantikan dengan keadilan. Dia berasal dari keturunan Rasulullah S A W dari putra Fathimah r. a. Kakeknya adalah Husain bin Ali bin Abi Thalib, dan ayahnya adalah Imam Hasan Al-Askari bin Imam Ali Al-Naqi bin Imam Muhammad Al-Taqi bin Imam Ali Al-Ridha bin Imam Musa Al-Kazhim bin Imam Jakfar Ashshadiq bin Imam Muhammad Al-Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Husain bin Imam Ali bin Abi Thalib r.a.

Dalam Kitab Ash-Shawa’iqal Muhriqah karya Ibnu Hajar dalam bab mengenai ihwal Al-’Askari terdapat uraian sebagai berikut : ”Beliau (Imam Hasan Al-’Askari) tidak meninggalkan keturunan seorangpun selain putranya yaitu Abal Qasim Muhammad AlHujjah a.s., yang umurnya ketika ayahnya wafat adalah 5 tahun. Tetapi dalam usia tersebut Allah telah menganugrahkan kepadanya hikmah, dan dia dinamakan Al-Qa’im Al-Muntadzar. Dikatakan bahwa, yang demikian itu karena dia telah ”dirahasiakan” , kemudian menghilang dan tidak diketahui kemana perginya. Penulis lain dari kalangan jumhur ulama juga menuturkan hal serupa, misalnya Ibnu Khallikan, pengarang Al-Fushulul Muhimah, Mathalibus Su’ul, Syawahidun Nubuwah sebagai mana yang diterangkan oleh syaih Abdullah Syabar dalam karyanya yang berjudul Haqqul Yaqin.
Ustadz Hasyim al-Amidi telah mengadakan studi penelusuran yang seksama dan beliau menemukan 128 (seratus dua puluh delapan) Ulama Ahlusunah telah meyakini kelahiran Imam Mahdi as.

Di bawah ini akan kami sebutkan sebagian nama-nama mereka:

1.Muhammad bin Harun Abu Bakar ar-Rauyani (w. 307 H) dalam kitabnya al-Musnad.
2.Abu Nu’aim aI-Ishfahani (w. 430H) dalam kitabnya al-Arba’in haditsan fi al-Mahdi.
3.Ahmad Bin Husain al-Baihaqi (w. 458 H) dalam Syu’ab al-Iman.
4.Al-Khawarizmi al-Hanafi (w. 568 H) dalam Maqtal al-Imam al-Husain.
5.Muhyiddin Ibn al-Arabi (w. 638 H) dalam al-Futuhat alMakkiyah, bab 366 dalam pembahasan 65, sebagaimana disebut dalam Yawaqit wa al-Jawahir oleh asy-Sya’rani.
6.Kamaluddin Muhammad bin Thalhah asy-Syafi'iy (w. 652 H) dalam Mathalib as-Su'ul.
7.Sibth Ibn al-Jauzi al-Hanbali (w. 654 H) dalam Tadzkirah-alKhawash.
8.Muhammad bin Yusuf al-Kunji asy-Syafi’i (terbunuh tahun 658 H) dalam kitabnya Kifayah ath-Thalib.
9.Al-Juwaini al-Hamawaini asy-Syafi’i (w. 732 H) dalam Fara’id as-Simthain: 2\337.
10.Nuruddin Ibnu Shabbagh al-Maliki (w. 855 H) dalam al-Fushul al-Muhimmah.71
11.A1-Quthb asy-Sya’raani, sebagaimana dinukil dalam Nuur alAbshar (187).
12.Syeikh Sahan al-Iraqi, sebagaimana dinukil dalan Nuur al-Abshar.
13.Syeikh Ali al-Khawash, sebagaimana disebutkan oleh al-Quthb asy-Sya’rani.
14.Syeikh asy-Syablanji dalam Nuur al-Abshar.
15.Ibnu Hajar al-Haitsami al-Makki (974 H) dalam ash-Shawaiq.

Dan bagi yang menginginkan keterangan lengkap tentang namanama mereka berikut keterangannya, kami persilahkan merujuk kitab-kitab khusus yang membahas tentang Imam Mahdi as.

Tanda-tanda sosial akan datangnya Imam Mahdi meliputi:

1.Tersebar luasnya kezaliman dan kejahatan.
2.Berkuasanya kejahiliyahan dan; munculnya kehidupan jahiliyah yang meliputi akidah, akhlak, dan peradaban.
3.Kemajuan ilmu pengetahuan yang mencengangkan.
4.Peperangan dan kekacauan yang merusakbinasakan, serta hilangnya rasa aman dan ketenteraman.
5.Munculnya para pendusta dan Dajjal yang mendakwakan diri sebagai pembaharu.
6.Krisis dan kemerosotan ekonomi.
7.Munculnya gerakan-gerakan, kepemimpinan dan dakwah, yang membuka jalan bagi munculnya Al-Mandi untuk menyelamatkan manusia dari kejahiliyahan.

Sekarang marilah kita tuturkan beberapa riwayat yang menetapkan tanda-tanda tersebut di atas.

Ash-Shaduq meriwayatkan dalam kitabnya Man La Yandhuruhul Faqih, bahwa Al-Ashbagh bin Nabatah meriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ucapan beliau sebagai berikut:
“Pada akhir zaman dan saat mendekatnva Kiamat yang merupakan masa yang paling buruk akan muncul wanita-wanita yang tubuhnya terbuka dan telanjang, memamerkan kecantikan dan perhiasannya, tenggelam ke dalam fitnah, cenderung kepada syahwat, bersegera kepada kelezatan, dan menghalalkan bagi dirinya barang-barang yang haram. Mereka akan kekal abadi di neraka.” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 426, dikutip dari Man La Yandhuruhul Faqih)

Al-Majlisi meriwayatkan dalam Bihar Al-Anwar, dari ayahnya, dari Ali, dari ayahnya, dari An-Naufali, dari AsSaukani, dari Abu Abdillah a.s., katanya: “Telah bersabda Rasulullah Saaw.: ‘Akan datang kepada umatku suatu masa, yang di dalamnya rahasia diri mereka penuh dengan keburukan namun penampilan mereka penuh dengan kebaikan, orang tamak kepada dunia, tidak menghendaki apa yang ada di sisi Allah SWT., perbuatan mereka merupakan riya' tanpa dicampuri rasa takut (kepada Allah). Allah menyamaratakan azab bagi mereka. Mereka lalu berdoa seperti doa orang yang akan tenggelam, namun doa mereka tidak dikabulkan.’” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 426, dikutip dari Bihar Al-Anwar)

Dengan sanad yang sama, Al-Majlisi juga meriwayatkan: “Telah bersabda Rasulullah Saaw.: ‘Akan datang kepada umatku suatu masa di mana tidak ada lagi yang tinggal dari Al-Quran selain tulisannya, dari Islam selain namanya yang mereka gunakan, sedang mereka adalah orang-orang yang paling jauh dari Islam. Masjid-masjid mereka banyak tapi kosong dari hidayah. Para fuqaha di masa itu merupakan fuqaha yang paling buruk di kolong langit. Dari mereka keluar fitnah, dan kepada mereka pula fitnah itu kembali.’” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 427, dikutip dari Bihar Al-Anwar)

Diriwayatkan dari Imam Al-Baqir Muhammad bin All a.s., bahwa beliau mengatakan: “Al-Mandi tidak akan muncul sehingga kegelapan memuncak.” ” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 427, dikutip dari Malahim wal Fitan)

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib a.s., dari Rasulullah Saaw.: “Sesungguhnya Islam itu bermula sebagai sesuatu yang asing, dan akan kembali menjadi asing. Maka berbahagialah orang-orang yang asing.” Seseorang bertanya: “Siapakah orang-orang yang asing itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: "Mereka itu ialah orang-orang yang berlaku baik ketika masyarakat telah rusak. Sesungguhnya tidak ada keterlepasan atau keterasingan bagi seorang Mukmin. Tak ada seorang Mukmin pun yang mati, melainkan para malaikat menangis karena kasihan kepadanya. Kalaupun mereka tidak menangis untuknya, maka kuburnya akan diluaskan dengan cahaya yang cemerlang ketika ia diletakkan di tempat kepalanya terletak.” ” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 436, dikutip dari Ja’fariyat wal Asy-Atsiyyat)
Ibnu Majah men-takhrij dalam Sunan-nya, jilid II, dalam bab Al-Fitan, Fitnah Dajjal, dari Abu Imamah Al-Bahili, katanya: “Rasulullah berkhutbah kepada kami, dan sebagian besar khutbah beliau adalah ceritera mengenai Dajjal, yang terhadapnya beliau memperingatkan kami. Di antara kata-kata beliau adalah: ‘Sungguh, belum pernah ada cobaan di muka bumi, sejak Allah menciptakan keturunan Adam, yang lebih besar dari Dajjal. Allah tidak pernah mengutus seorang Nabi, maka pasti dia memperingatkan umatnya terhadap Dajjal. Aku adalah Nabi yang terakhir dan kalian adalah umat yang terakhir; dan tak dapat tidak, Dajjal akan keluar di kalangan kalian.’” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 436, dikutip dari Sunan Ibnu Majah)

Al-Kulaini menukil dalam Raudhatul Kafi sebuah hadis dari Imam Ja'far bin Muhammad Ash-Shadiq a.s., yang melukiskan tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dan industri yang dicapai oleh umat manusia pada saat menjelang munculnya Dajjal, sebagai berikut:
“Sesungguhnya Al-Qa’im kami, apabila ia muncul, maka Allah SWT memanjangkan bagi pengikut kami daya dengar dan lihat mereka, sehingga antara mereka dengan Al-Qa’im tidak perlu ada kurir. Dia akan berbicara kepada mereka, dan mereka dapat mendengar dan melihat kepadanya sedang dia sendiri masih tetap di tempatnya.’” (Al-Kulainy, Al-Kafi, jilid VIII, hal 240 – 241)

Beliau juga meriwayatkan dari Imam Ash-Shadiq a.s.: “Sesungguhnya orang Mukmin di zaman Al-Qa’im itu, jika dia berada di Timur, dia pasti bisa melihat saudaranya yang berada di Barat. Demikian pula mereka yang berada di Barat akan dapat melihat saudaranya yang berada di Timur.” (Abdullah Syabr, Haqqul Yakin, jilid I, hal. 229)

Kita bisa mengatakan, bahwa kedua riwayat ini mengisyaratkan tingkat perkembangan sarana komunikasi yang dicapai oleh ilmu pengetahuan modern, berupa penciptaan alat-alat pemindahan gambar dan suara, seperti televisi, radio dan semacamnya. Kedua alamat materialistik yang kita kenal ini, sebelumnya tidak dikenal, dan baru kita ketahui setelah dicapainya kemajuan ilmu pengetahuan di bidang audiovisual dan telekomunikasi jarak jauh. Karenanya, kedua riwayat ini bisa dipandang sebagai sebagian dari bukti-bukti materialistik yang menunjukkan benarnya kemunculan Al-Mandi a.s.

Syaikh Ath-Thusi meriwayatkan dalam kitabnya AlGhaibah, dari Muhammad bin Muslim dan Abu Bashir, bahwa keduanya mengatakan: “Kami mendengar Abu Abdillah a s. berkata: 'Perkara ini tidak akan terjadi sampai lenyapnya dua pertiga manusia.’ Maka kami lalu bertanya: dua pertiga umat manusia lenyap, maka siapakah yang masih tinggal?’ Beliau menjawab: Tidakkah kalian senang menjadi sebagian dari yang sepertiga sisanya itu?’” ” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 436, dikutip dari Al-Ghaibah)

Abu Nu'aim meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib a.s. dalam kitab Al-Burhan fi 'Alamat Mahdi Akhiriz-Zaman: “Al-Mandi tidak akan muncul sampai sepertiga dari umat manusia terbunuh, sepertiga mati, dan sepertiga tinggal.” ” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 436, dikutip dari Al-Burhan fi ‘Alamat Mahdi Akhiriz-Zaman)

Riwayat-riwayat tersebut menceriterakan tentang tandatanda sosial yang menunjuk kepada kemunculan Imam AlMandi a.s. Namun ada juga riwayat-riwayat lain yang menceriterakan tentang tanda-tanda yang bersifat alamiah, seperti terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan bukan pada waktunya yang biasa, dan terjadinya perubahan di tata surya dan jagad raya. Perlu ditegaskan pula, bahwa riwayat-riwayat lain yang menceriterakan tentang munculnya Imam Al-Mandi, mengisyaratkan bahwa kemunculan beliau itu akan terjadi di Makkah Al-Mukarramah, dan bahwa beliau akan mengumumkan kekhalifahan serta negaranya, dan orang banyak akan membaiatnya di antara tiang Ka’bah dan Maqam Ibrahim, di Masjidil Haram.

Catatan Kaki:

1. Di antara kitab kitab Ulama Ahlussunah yang menyebut sejarah para Imam atau bahkan dikarang khusus tentang sejarah hidup mereka ialah: al-Fushuul al-Muhimmah; Ibnu Shabbagh al-Maliki, ash-Shawaiq al-Muhriqah; Ibnu Hajar al-Haitsami, pada bab 11, Nuuur al-Abshar fi Manaqib Aal an-Nabi al-Mukhtaar; Syeikh asy-Syablanji dan Is'aaf ar-Raghibiin; Ibnu Shabban.
2. Ash-Shawa'q, Bab 11, pasal 3, hal.191 hadis ke l0, Hadis riwayat Ahmad dan at-Turmudzi dari sahabat Abu Sa'id al-Khudri dan riwayat ath-Thabarani dari Imam Ali as, Umar, Jabir, Abu Hurairah, Usamah bin Zaid dan Baraa' bin al-Azib serta riwayat Ibnu Adiy dari Ibnu Mas'ud, dan selain riwayat di atas, ia juga menyebut beberapa riwayat semakna dengan sedikit tambahan kelengkapan redaksinya.
3. ibid hadis ke 15 dari riwayat Ibnu Adiy dan Ibnu Asakir dari sahabat Abu Bakrah.
4. Ibid., hadis ke 16 dari riwayat at-Turmudzi dan Ibu Hibban dari sahabat Usamah bin Zaid.
5. Asy-Syablanji berkata: "Imam Malik bertaka: ‘Beliau digelari “Zainaul Abidin” (penghias para menghamba) dikerenakan banyak beribadah ia adalah Imam keempat Syiah Imamiyah’” (Nuur al-Abshaar: 153).
6. Ash-Shawa’iq: 201.
7. Kisah lengkapnya dapat Anda baca dalam Shawaiq: 200-201 dan Nuttr al-Aabshaar 155-156 dan buku-buku lain.
8. Thabaqat Ibnu Satad: 5 / 213, Tandzib adz-Tahhdzib: 7 / 268 dan Thabaqat alHuffadz: as-Suyuthi: 2 / 37.
9. Ibid., Shafwah ash-Shafwah; Ibnu Jauzi: 2 / 99.
10. Ibid.
11. Shafwah ash-Shafwah: 2 / 93 dan Kasyf al-Ghummah: 199.
12. Wa Rakibtu as-Safinah: 483-484.
13. Al-Imam Zaid: 31.
14. Nuur al-Abshaar: 157 dan ash-Shawa’iq: 201.
15. Tandzib at-Tandzib: 2 / 302 dan Hilyah al-Auliya': 3 / 186.
16. Lihat pernyataan-pernyataan mereka dalam Wa Rakibtu as-Safinah: 478-490.
17. Ibid., 489.
18. Lihat Tarikh at-Tasyri' al-Islami; Doktor al-Fadhli: 98-99 dan al-Imam ash-Shadiq: Abdul Halim al-Jundi al-Mashri: 141.
19. Ash-Shawa’iq: 202.
20. Tarikh al-Ya’qubi: 3 / 177.
21. Tandzib at-Tandzib: 2 / 104-105.
22. Ibid., 2 / 103.
23. Al-Milal wa an-Nihal: 1 / 272.
24. Asad Haidar dalam al-Imam Ja’far Wa Al-Madzahib A I-Arba’ah: 1 / 55 menukil dari Rasa’il aI-Jahidh: 106.
25. Wafayat al-A’yaan: 1 / 327.
26. Asad Haidar menukil dari Mathalib as-Suul: 2 / 55.
27. 1 / 166.
28. Laula as-Sanatan Lahaka an-Nu’maan; Syeikh Muhammad Ridha al-Hakimi: 295. menukil dari al-Irsyad; Syeikh al-Mufid, al-Fattal dan S. Ali bin Abdil Hamid an-Niiliy.
29. Asad Haidar: 1 / 55 dari al-Majalis as-Saniyah; S. Muhsin Al-Amin : 5 / 209.
30. Siyar A 'laam an-Nubalaa': 6\270.
31. Mizan al-I’tidal: 3 / 309.
32. Tarikh Bahgdad: 13 / 27, Shafwah Ash-Shafwah: 2 / 184, Syadzarat Adz-Dzahab: 3 / 377, Siayar A'laam: 6 / 172.
33. Wafayat al-A'yaan: 5 / 308.
34. Ar-Rasyid mengucapkannya dengan tujuan ingin membanggakan kedekatan hubungannya dengan Nabi Saww. dan karenanya ia layak menjadi Khalifah dan pengganti Nabi Saww.
35. Shawa’iq: 204. Dapat kita saksikan dalam kisah di atas bagaimana bahwa para Imam Ahlul-Bait as. tidak henti-hentinya ketika kondisi memungkinkan untuk membongkar kedok dan kelemahan alasan para perampas imamah dari mereka (seperti yang ingin dikesankan oleh Harun ar-Rasyid bahwa ia berhak atas kepemimpinan umat karena kedekatan kekeluargaannya dengan Nabi saww) dan mereka selalu menjelaskan kepada umat Islam bahwa imamah dan kepemimpinan adalah hak ahlulbait as. Apa yang dilakukan Imam Musa as mirip dengan apa yang dilakukan kakek beliau Imam Ali bin Abi Thalib as ketika menjelaskan kelemahan argumentasi Abu Bakar dan kelompoknya atas kelompok Anshar bahwa ia (Quraisy) berhak atas Khilafah kerena mereka lebih dekat secara kekeluargaan dengan Nabi saww, Imam Ali as mengatakan: “Kalau engkau dengan alasan kekeluarga mengalahkan argumen lawanmu (Anshar) maka ketahuilah bahwa ada orang lain yang lebih dekat kepada Nabi.” (Nahj al-Balaghah: I-Hikmah ke 190 , hal; 668, dengan Syarah Syeikh Muhammad Abduh).
36. Al-Fushul Al-Muhimmah: 221 dan: 227, pernyataan serupa juga disampaikan oleh asy-Syablanji dalam Nur al-Ab.vhar: 166 dan ash-Shabban asy-Syafi'iy dalam arRaghibin (di pinggir Nur al-Abshar): 246.
37. Ash-Shawa’ iq: 204.
38. : 7 / 330.
39. Siyar A 'laam: 9 / 387-388.
40. Ibid., 392.
41. Tadzkirah al-Khawash: 198.
42. Ash-Shawa’iq : 205.
43. Ibid.,
44. Hilyah al-Awliya': 3\92.
45. Ash-Shawa’iq : 205-206.
46. Tadzkira al-Khawash: 202.
47. Beliau di sebut Abu Ja`far ats-Tsani karena Kakek beliau Imam Muahammad al-Baqir juga dikunyahi dengan Abu Ja`far. (al-Imam Ali ar-Ridha wa Risalatuhu fi ath-Thibb an-Nabawi ; DR. Muhammad Ali al-Baar hal; 102).
48. Al-Fushul al-Muhimmah: 253.
49. Jawahir al-Kalam : 147
50. Ash-Shawa’iq: 206 dan Nur al-Abshar: 178.
51. Al-Bidayah wa an-Nihayah: 11 / 15.
52. Al-Fushul al-Muhimmah: 265 menukil dari al-Irsyad 1.
53. Nur al-Abshar: 181 dan ash-Shaawa’iq: 207.
54. Tadzkirah al-Khawash: 202. Dan pada waktu lain beliau difitnah lagi dan rumah beliau digeledah di tengah malam dan akhirnya ditangkap dan dihadapkan kepada al-Mutawakkil di tengah malam, dan ketika itu al-Mutawakkil sedang begadang dengan meminum khamer baca kisah lengkapnya dalam Nur al-Abshar: 182-183.
55. Ash-Shawa’iq: 207.
56. Ibid., 208.
57. Ibid., 203.
58. Al-Fushul al-Muhimmah: 273 menukil dari al-Irsyad.
59. Ibid., 279.
60. Nur al-Abshar: 183.
61. Ibid., 183 dan ash-Shawa'iq: 207.
62. I’lam al-Wara: 390.
63. Nuur al-Abshaar: 185.
64. Ibid., 187.
65. Musnad Alunad: 3/ 37 dan 52. Lihat juga: Uqad ad-Durar: 62 dan 156, Faraid as-Simthain: 2 / 310 dan 561, Majma' az-Zawaid: 7/ 313, al-'Arfu al-Wardi: 2 / 58, Shawa’iq: 166 dan Kanz 14 / 216 Hadis ke 38653.
66. Sunan Abu Daud: 4 / 104 hadis ke: 4282. Lihat juga al-Mu jam al-Kabir: 10 / 135 hadis ke 10224, Mashabih as-Sunnah: 3 / 392 hadis ke 4210, 'Uqad ad-Durar: 27, 28 dan 169, ash-Shawaiq: 163, Minhaj as-Sunnah: 4 / 95, Misykat al-Mashabih: 3 / 170 hadis ke 5452 dan Kanz ‘Ummal: 14/ 267 hadis ke 38676.
67. Al-Fitan: 229 dan lihat juga ‘Uqad Ad-Durar:16-17, Jawahir aldaian: 306, al-Arfu al- Wardi 74 dan ash-Shawaiq:164.
68. Musnad Ahmad: 1/ 84, Sahih Muslim—sebagaimana dimuat dalam Kanz ‘Ummal : 14 / 264 hadis ke 38662, Shawaiq:163, Sunan Abu Daud: 4 / 104 hadis ke 4284, Sunan an-Nasa’'i—sebagaimana dikutip dalam 'Uqad ad-Durar: 15, Sunan Ibnu Majah: 2 / 1368 hadis ke 40886, al-Baihaqi—sebagaimana disebut dalam Shawaiq, Mashabih as-Sunnah: 8 / 492 hadis ke 4211, Syarh as-Sunnah: 8 / 354 hadis ke 4280 al-Jami' ash-Shaghir: 552 hadis ke 9241 dan al-Bayan fi Akhbar Shahib az-Zaman: 486.
69. Fath al-Bari fi Syarh al-Bukhari: 5 / 362.
70. Islamuna; Doktor Mushthafa ar-Rafi’iy: 195.
71. Untuk mengetahui nama-nama mereka lihat Difaa ‘An al-Kafi Tsamir Hasyim Al’Amidi 1/ 569-592, Kasyf al-Astaar; Mirza Husain an-Nuri ath-Thabarsi : 46-93 dan kitab al-Imam ats-Tani ‘Aasyar;Muhammad Sa’id al-Musawi.

(Selesai)

Comments: (0)


Non-small cell lung cancer presenting as a bilateral metastatic brachial plexopathy
Date: Nov 2nd, 2007 8:42:58 pm - Subscribe
Mood: neglected


Ÿ Neuroanatomy, 2002, Volume1, Pages 26-28.

Case Report
Non-small cell lung cancer presenting as a bilateral
metastatic brachial plexopathy

Necdet Karli (1)
Kader Karli Oguz (2)
Mehmet Zarifoglu (1)
Nebahat Bilici (1)
Ozgur Cakir (3)
(1) Department of Neurology, University of Uludag,
School of Medicine, Gorukle, Bursa, Turkey.
(2) Department of Radiology, Hacettepe University,
School of Medicine, Sihhiye, Ankara, Turkey.
(3) Department of Radiology, University of Uludag,
School of Medicine, Gorukle, Bursa, Turkey
Correspondence Address
Kader Karli Oguz, MD.
Hacettepe University, School of Medicine
Dept of Radiology 06100 Sihhiye Ankara Turkey

Abstract
Squamous cell carcinoma may present with atypical peripheric nerve symptoms. Lung
cancers are the second most common cancer which metastasize to the brachial plexus.
Metastatic brachial plexopathy (BP) is almost always unilateral. We document MR
images of a case with squamous cell lung cancer presenting as bilateral metastatic BP.
Although very rare, bilateral plexopathy may be the presenting situation of lung cancer.
Key words: plexopathy, bilateral, metastasis, lung cancer
Introduction
Brachial plexopathies (BP) develop when lesions occur
anywhere along the course of the brachial plexus which
provides motor and sensory innervation of the upper
extremity. These lesions are often due to trauma, radiation,
and primary or secondary tumors. Secondary tumors of
brachial plexus are more common than primary tumors and
all are malignant [1]. Breast and lung cancers are the most
common malignancies which metastasize to the brachial
plexus and usually invade the brachial plexus by contiguous
spread from the lung [2]. Brachial plexopathy due to
metastasis is almost always unilateral [3, 4].
Herein, we demonstrate a case of a non-small cell lung
cancer presenting as bilateral BP.
Case Report
A 54-year-old man with severe pain and weakness in his
neck, shoulders and arms was referred to our institution
for a detailed evaluation. He had a mild pain started 3
months prior to admission in the left side of his neck and
left shoulder, radiating to the medial side of the left arm.
In two weeks, the pain had increased in severity and a mild
weakness had developed in the left forearm and hand
muscles. At the time of admission, with further increase in
intensity of the pain on left side, a severe pain had developed
in the same region on the right with accompanying weakness
in proximal arm muscles. Cervical spine MRI performed
prior to admission was normal. The patient had a 60 packmonth
(1200 cigarettes/month) smoking history for nearly
40 years.
On examination, left hand intrinsic, triceps, and wrist flexor
and extensor muscles were severely atrophic. Right deltoid
and trapezius muscles were severely, biceps was mildly
atrophic. The weakness of the muscles were variable in a
range between 1/5 and 3/5 on examination. Sensation was
decreased in the left C8 and right C6 dermatomes. Deep
tendon reflexes were normal.
The first electromyography (EMG) showed mildly reduced
right ulnar sensory amplitude. Needle EMG revealed chronic
neurogenic motor unit potentials in right C4-8 innervated
muscles. Reduction in the recruitment was significant in
right C4 and C5 myotomes, concluding that these were the
most severely affected ones. In left arm C6-8 and T1
muscles were affected and C7-8 were the most severe ones.
Consequently an electrodiagnosis of bilateral plexopathy
was made.
Lumbar puncture revealed no abnormality. Brachial plexus
MRI revealed a solitary mass measuring 4x4x4.5 cms in
diameter in the left brachial plexus, located posterolaterally,
involving the middle and lower trunks on coronal images.
The uncapsulated mass was hypointense on T1-weighted
spin echo (T1W SE) and hyperintense on T2W TSE images
relative to the brain parenchyme and had irregular border.
The mass showed marked enhancement (Figs. 1a, b, c).
Extension of the mass into the spinal canal, invasion of the
C6-7 ventral roots and destruction of C6 and C7 vertebras
were observed. There was another mass, 1,5x2,5x3 cms in
size with similar imaging features on the right upper cervical
plexus at the level of C4-5 vertebras and ventral cervical
roots (Figs. 3a, b).
Published online December 17, 2002 © neuroanatomy.org
26 http://www.neuroanatomy.orgISSN 1303-1775 (printed) 1303-1783 (electronic)
A lung CT disclosed a mass lesion in the upper lobe of the
right lung (Fig. 2). The pathological examination yielded
poorly differentiated squamous cell carcinoma.
The patient underwent radiotherapy for the primary and
secondary tumor sites with pain control measures. The
strength of the left arm muscles increased about 20%. He
mentioned almost complete pain relief.
Three weeks later, second EMG showed a 30% and 70%
decrease in right first digit median and ulnar sensory
amplitudes, and 50% and 30% decrease in left median and
ulnar motor amplitudes respectively. Needle examination
revealed an additional involvement of right C4 and left C5
muscles. Right C8 and left C7-8 muscles were worse when
compared to the previous EMG.
One month after his admission to our hospital, he
complained about weakness in his left leg. A repeat cervical
MRI showed progression of the left brachial plexus mass.
Collaps of the C6 and C7 vertebras as well as compression
of the spinal cord by the tumor at the corresponding levels
of C6 and C7 vertebras was observed on sagittal T2W TSE
images (Figs. 3a, b)
The patient failed to respond additional chemotheraphy
and muscle power decreased in all limbs. Six months after
diagnosis he died.
Discussion
In a study of 104 patients with non-traumatic BP, radiation
fibrosis was demonstrated as most common cause followed
by primary and metastatic cancers [4]. Secondary tumors
of brachial plexus are more common than primary tumors
and all are malignant [1]. It was reported that breast and
lung cancers were the most common metastatic cancers to
the brachial plexus. Seventy percent of the tumors were of
breast or lung origin and usually invaded the brachial
plexus by contiguous spread from the lung [2]. Brachial
plexus involvement by a metastatic disease is almost always
unilateral. We are aware of another report by Thyagarajan
et al., in which a bilateral BP due to breast cancer was
presented [3].
Our patient presented with unilateral symptoms mimicking
cervical radiculopathy. EMG and the repeat MR
examination of the brachial plexus after an unremarkable
cervical spine MR performed at the time of relatively mild
symptoms established the diagnosis of bilateral involvement
of the brachial plexus by metastases in our case. Brachial
plexopathy due to any cause is rare. A literature search
discloses a few reports of a few causes [5, 6]. Tzur et al
reported a case due to e. coli sepsis, which presented with
pain in neck and shoulder, weakness of shoulder girdle
and proximal arm muscles and worsened in a few days [7].
Bilateral brachial neuritis can mimick metastatic plexopathy
[6]. Usually, brachial neuritis is more acute and follows a
history of viral illness or immunization [7].
Radiation therapy may cause bilateral BP [2, 8]. But history
of a tumor and radiotheraphy, nature of the pain, myokymia
in the EMG, and findings in radiologic examinations usually
help to differentiate radiation plexopathy from metastatic
plexopathy.
Patient’s history of 60-pack-month smoking increased the
possibility of a metastatic lesion. Brachial plexus MRI
revealed mass lesions in both brachial plexuses. MRI
provides the best anatomical detail and can identify tumor
infiltration of the brachial plexus [7]. Thyagarajan et al.
stated that the masses were usually adjacent to the brachial
plexus rather than in it [3]. This may explain normal sensory
amplitudes (except ulnar nerve) in the first EMG in this
case.
Lung cancer is the most common primary tumor invading
the brachial plexus after breast cancer [1, 3, 4, 9]. Nonsmall
cell lung cancers are the most common lung cancers
which metastasize to the brachial plexus. Only two bilateral
cases out of a total 175 BP patients have been reported in
Figure 1 T1-weighted SE (TR/TE, 650/15) coronal (a) and T2-weighted TSE (TR/TE, 3590/100) axial (b) images show bilateral metastatic
masses on the brachial plexus which invades the C5-C7 vertebras. The neural foramina, and marked heterogenous enhancement is seen on
postcontrast T1-weighted SE (TR/TE, 650/15) axial image (c).
Figure 2 On CT scan, mass of upper lobe bronchus which was proven
to be non-small cell lung carcinoma is demonstrated.
27 Neuroanatomy, 2002, Volume1, Pages 26-28. Karli et al.
a b c
two large series by Thyagarajan [3] and Wittenberg [4].
Breast cancer and radiation therapy were the causes in those
two cases [3, 4]. In Thyagarajan’s study, all 4 metastatic BP
cases out of 71 patients were unilateral [3].
Vargo et al. [10] reported a patient with pancoast tumor
presenting as a left C8 cervical radiculopathy. Their case
was poorly differentiated carcinoma most likely of squamous
type similar to our case. This report together with our case
emphasize that lung cancers, especially squamous cell
carcinomas may present with atypical neurologic
complications.
Tumors, predominantly lung cancers, usually invade medial
and lower trunks [6]. In the present case, metastatic mass
on the same side with the primary tumor, involved the right
upper brachial plexus. On the contralateral side, involvement
of the middle and lower trunks was present. The distribution
pattern suggests that metastases to the brachial plexus in
this case was either lymphatic or hematogenous rather than
contiguous spreading.
As patients who have squamous cell carcinomas may present
with unusual peripheric nerve symptoms, an MR
examination for brachial plexuses and further radiologic
examinations to document primary tumor should be
performed in selected cases.
28 Neuroanatomy, 2002, Volume1, Pages 26-28. Karli et al.
[1] Wilbourn AJ. Brachial plexus disorders. In: Dyck PJ, Thomas PK, eds.
Peripheral Neuropathy, 3rd ed, Philedelphia, W.B. Saunders. 1993; 911-950.
[2] Kori SH, Foley KM, Posner JB. Brachial plexus lesions in patients with
cancer: 100 cases. Neurology. 1981 (31) 45-50.
[3] Thyagarajan D, Cascino T, Harms G. Magnetic resonance imaging in brachial
plexopathy of cancer. Neurology. 1995 (45) 421-427.
[4] Wittenberg KH, Adkins MC. MR Imaging of nontraumatic plexopathies:
frequency and spectrum of findings. Radiographics. 2000 (20) 1023-1032.
[5] England JD, Summer AJ. Neuralgic amyotrophy. An increasingly diverse
entity. Muscle Nerve. 1987 (10) 60-68.
[6] Jaeckle KA. Nerve plexus metastases. Neurol Clin. 1991 (9) 857-866.
[7] Tzur A, Shahin R. Bilateral brachial plexopathy after e. coli sepsis. Isr. J.
Med. Sci. 1997 (33) 687-689.
[8] Churn M, Clough V, Slater A. Early onset of bilateral plexopathy during
mantle radiotherapy. Clin. Oncol. 2000 (12) 289-291.
[9] Lusk MD, Kline DG, Garcia CA. Tumors of the brachial plexus. Neurosurgery.
1987 (21) 439-453.
[10] Vargo MM, Flood KM. Pancoast tumour presenting as cervical radiculopathy.
Arch. Phys. Med. Rehabil. 1990 (71) 606-609.
Ÿ
References
Figure 3 Sagittal T1-weighted SE (TR/TE, 650/15) (a) and T2-
weighted TSE (TR/TE, 3590/100) (b) images show involvement of the
vertebras and compression of the spinal cord. a b
Comments: (0)


PHOTO2 KOTA BANDUNG
Date: Nov 2nd, 2007 2:25:51 pm - Subscribe
Mood: boisterous


Bandung Pictures from the Sky



I captured some pictures of Bandung and surroundings from satellite (EarthSat). Thanks for Google Earth program. The pictures are very clear and informative for all of us.. Subhanallah...



Bandung in the middle of the blue planet. (From eye altitude 10800 km)



Bandung is located in the heart of famous Java island, surrounded by Sumatra, Kalimantan (Borneo), and Bali Island. (From eye altitude 1973 km)



Bandung is only about 180 km distance from Jakarta, Indonesia Capital City. (Eye alt 212 km)



Bandung picture and surroundings, taken from satellite with altitude 30 km.



See how dense Bandung City from the sky (Eye altitude 10300 meter)



The view of north taken from 11700 meter above Bandung. Bandung surrounded by Gunung (Mount) Tangkubanparahu, Gunung Sunda, Gunung Burangrang, and Gunung Bukit Tunggul in the north. See also Java Sea in the background.



View of the mountain in the south of Bandung. This city surrounded by many Gunung all around it.



View from the south of Bandung



This picture taken from the top of Gunung Tangkubanparahu to the south of Bandung. See also Hindia Ocean as the horizon far away in the south of Java.



See some cities in the northwest of Bandung, Padalarang, Purwakarta, Cikampek, and Jakarta in the background

Comments: (0)


Earth Template
Create your own Free Aeonity Blog Today
Content Copyrighted eryc9 at Aeonity Blog